KULON PROGO - Sehari setelah surat edaran (SE) Nomor 100.3.4/2/034/2026 yang diteken Bupati Kulon Progo Agung Setyawan beredar luas di masyarakat, muncul respons beragam. Salah satunya seperti di SD Negeri 2 Pengasih, Margosari, Kulon Progo. Civitas sekolah langsung bergerak cepat menindakalnjuti perintah bupati.
Pagar dan gerbang sekolah yang semula bergambar motif geblek renteng dan simbol 88 tak lagi terlihat. Sudah dihapus. Bersih. Bahkan sekolah telah siap-siap menggantinya warna cat sesuai SE bupati. Kuning dan hijau pare anom (hijau muda).
Bukan hanya itu muncul sindiran. Persis di tengah-tengah gapura itu ada spanduk warna putih dengan tulisan merah menyala. “Geblek Sold Out” begitu pesan di spanduk itu. Artinya kurang lebih geblek terjual habis. Tak jelas siapa yang sengaja memasang tulisan tersebut.
Saat dikonfirmasi, Lurah Margosari Danang Subiantoro hanya berkomentar singkat. Spanduk sudah tidak ditemukan di lokasi. “Pun mboten wonten, (sudah tak ada, Red),” ucap Danang. Dia juga mengirimkan foto kondisi gerbang dan pagar SD Negeri 2 Pengasih tadi malam. Kondisinya sudah berwarna hijau muda pare anom. Persis yang dikehendaki Bupati Agung.
Ketua DPRD Kulon Progo Aris Syarifuddin mengingatkan Agung agar lebih banyak mendengar. Ketimbang sibuk mengurus cat pagar dan gerbang sekolah, Agung dinasihati agar mengurus hal-hal yang lebih mendasar. Lebih dibutuhkan masyarakat. Misalnya secepatnya menangani kerusakan gedung sekolah. “Banyak sekolah yang kondisinya memprihatinkan,” ucap Aris kemarin (13/2).
Mengubah warna cat pagar dan gerbang sekolah saat ini bukan hal mendesak. Tidak urusan krusial meski dalihnya dalam rangka mengimplemtasikan filosofi Binangun di satuan pendidikan. Aris menilai perbaikan sekolah justru yang lebih diperlukan. “SE bupati itu harus dievaluasi ulang,” desaknya.
Banyak gedung yang kategorinya rusak parah. Bukan hanya perawatan rutin, tapi memerlukan renovasi total. Mengingat banyak sekolah di Kulon Progo yang umur bangunannya lebih dari 20 tahun. “Coba lihat sekolah di Kokap, banyak yang rusak butuh perbaikan,“ ujarnya.
Dari penelusuran Radar Jogja, sedikitnya ada empat sekolah yang membutuhkan perhatian serius. Sebagian besar gedungnya rusak. Keempat sekolah itu meliputi SD Negeri Hargotirto, Kokap, SD Negeri Kepek, SD Negeri Proman dan SD Negeri Degung. Khusus SD Negeri Hargotirto keadaannya paling parah. Kondisi tanahnya bengkah, dinding dan atap rapuh serta struktur bangunan retak.
Data di Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kulon Progo yang masuk daftar rehab tahun ini karena rusak berat ada beberapa sekolah. Untuk Paket A SD Negeri Hargotirto dan SD Negeri Proman. Paket B SD Negeri 2 Degung dan SD Negeri Banjarharjo, Kalibawang. Paket C SD Negeri 2 Kalipetir, SD Negeri1 Depok dan SD Negeri Margosari. Sedangkan Paket D SD Negeri Tubin, SD Negeri Kepek dan SD Negeri Serang.
Berdasarkan perencanaan dan disesuaikan kemampuan anggaran, rehab baru bisa menyentuh 50 persen dari sebagian sekolah yang rusak. Sebab, anggaran setiap paket hanya Rp 609 juta. Ilustrasinya, yang rusak enam unit kelas, Pemkab Kulon Progo baru mampu memperbaiki tiga unit kelas.
Problem serius lainnya yang dihadapi adalah infrastruktur. Masyarakat banyak yang mengeluhkan banyaknya jalan kabupaten yang rusak. Plus gelap saat malam. Itu, antara lain, terjadi di Jalan Cerme-Demangan, Jalan Tentara Pelajar Wates, Jalan Weton-Dumpoh dan Jalan Mudal-Wereng. Kondisinya rusak parah. Sudah berlangsung bertahun-tahun. Sedangkan jalan gelap meliputi Jalan Cerme-Demangan, Jalan Tentara Pelajar Wates, Jalan Cangakan Karangsewu dan Jalan Lendah Kulon.
Kepala Bidang Bina Marga Dinas PUPKP Kulon Progo Septi Adi Jati Prabowo mengakui ada ratusan kilometer yang kategori rusak parah. Tahun ini, APBD 2026 Kulon Progo hanya mampu mengalokasikan angggaran Rp 20 miliar. ”Meningkat Rp 3 miliar dibandingkan 2025,” terang Septi.
Dikatakan, keterbatasan anggaran membuat perbaikan ratusan kilometer jalan yang rusak belum bisa tertangani. Catatan Septi total panjang jalan kabupaten 807,758 kilometer. Jalan dengan kondisi rusak ringan dan rusak berat cukup mendominasi, Rusak ringan 51,5 kilometer. “Sedangkan rusak berat menembus 200,32 kilometer,” paparnya.
Dengan alokasi anggaran Rp 20 miliar, rencana rekonstruksi dan pemeliharaan berkala tahun ini hanya menyasar 4,85 kilometer. Ditambah pemeliharaan rutin sepanjang 75 kilometer. Ditambahkan, jalan kabupaten yang kondisi mantap atau baik dan sedang sepanjang 556,387 kilometer.
Dengan data itu, kondisi jalan di Kulonprogo lebih banyak rusak berat dibandingkan rusak ringan. Alokasi anggaran tahun ini tak akan mampu mengatasi jalan kabupaten yang rusak. Ruas jalan kabupaten yang harus diperbaiki sepanjang 251,371 kilometer. Tahun ini penanganan rekonstruksi dan berkala hanya sepanjang 4,85 kilometer.
Penanganan pemeliharaan rutin hanya 75 Kilometer. Keterbatasan anggaran itu menyulitkan Bidang Bina Marga Dinas PUPKP Kulon Progo menindaklanjuti setiap pengaduan masyarakat yang masuk. Saban hari banyak ruas jalan yang rusak yang dilaporkan masyarakat. (gas/kus/laz)