KULON PROGO - Panti Asuhan Brayat Pinuji di Padukuhan Boro, Kalurahan Banjarasri, telah bertahan selama 91 tahun mendampingi anak yatim piatu dan terlantar.
Berdiri sejak 1934 pada masa penjajahan Belanda, panti asuhan ini terus berperan sebagai ruang pengasuhan, pendidikan, dan pembentukan kemandirian anak lintas generasi hingga kini.
Pimpinan Panti Asuhan Brayat Pinuji Boro Suster Christera mengatakan, munculnya panti asuhan berawal saat Romo Prennthaler mengabdikan dirinya di Perbukitan Menoreh.
Saat itu, terjadi wabah kolera besar-besaran. Wabah itu, sempat ditanggulangi dengan keberadaan rumah sakit.
"Empat tahun sesudah RS Santo Yusup Boro berdiri, panti asuhan mulai beroperasi," ucap Suster Christera, Minggu (11/1/2026).
Akan tetapi, masih banyak masyarakat Perbukitan Menoreh yang kehilangan nyawa akibat kolera.
Dari situ, bermunculan anak yatim piatu akibat wabah. Melihat kondisi masyarakat, Romo Prennthaler mengundang suster Ordo Santo Fransiskus (OSF) untuk menjawab persoalan sosial.
"Dulu masih banyak ibu yang meninggal setelah melahirkan, anaknya kami rawat di sini," ungkapnya.
Selain kolera, masalah kesehatan pascakelahiran dulunya menjadi penyebab banyaknya ibu melahirkan meninggal dunia.
Hal itulah yang menguatkan pembentukan panti asuhan. Setelah resmi beroperasi, panti asuhan berdiri di samping rumah sakit.
Saat awal beroperasi, banyak anak terlantar dari latar belakang yatim piatu ditampung.
Bahkan pascakemerdekaan, lebih dari 150 anak hidup di dalam panti asuhan. Melihat semakin banyaknya anak asuh, panti asuhan lantas dipindahkan ke area yang lebih luas terletak sekitar 500 meter dari tempat awal.
"Kehadiran kami untuk menjawab persoalan ekonomi, kesehatan, serta pendidikan," jelasnya.
Selama hampir seabad, Panti Asuhan menjadi saksi sejarah. Di samping itu, panti asuhan menjadi penaung anak negeri.
Pasalnya, beragam anak dari berbagai suku dan daerah datang ke panti asuhan. Mulai dari Sumatera hingga Papua pernah tinggal di panti asuhan tersebut.
Tak sekadar rumah bagi yatim piatu, panti asuhan terus berinovasi. Terutama menyiapkan anak-anak untuk kembali ke masyarakat.
Selain disekolahkan gratis, anak-anak dilatih keterampilannya. Baik soft skill hingga hard skil ditempa.
Selama menjadi penghuni panti asuhan, kegiatan anak diisi hal positif. Seperti, pelatihan alat musik, paduan suara, budidaya pertanian atau peternakan, hingga wirausaha. Tujuannya, menyiapkan agar saat dewasa nanti anak dapat hidup mandiri.
Hingga kini, Panti Asuhan Brayat Pinuji tetap memiliki eksistensinya. Kini panti asuhan telah meluluskan ribuan anak asuh, dan bertahan dengan tetap mengasuh 56 anak.
Salah satu mantan Anak Asuh asal Sorong Pangkrasia Tambuytikporop menceritakan saat sekolah dasar orang tuanya tak mampu membiayai sekolah.
Tahun 2008 bersama suster OSF dirinya diajak melanjukan pendidikan di DIY dan menjadi anak asuh di Brayat Pinuji.
"Sejak sekolah dasar hidup di sini, banyak kenangan dan kami berterima kasih," ucapnya.
Selama menjadi anak asuh, kebutuhannya cukup terpenuhi hingga lulus SMA dan kembali ke kampung halaman.
Namun, karena prestasinya, perempuan berumur 24 tahun itu mendapat beasiswa kuliah di salah satu kampus di Jawa Barat.
Saat libur semester, ia memilih tak pulang kampung, dan justru kembali ke panti asuhan yang membesarkannya. (gas/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita