KULON PROGO - Hujan berkepanjangan yang terjadi di Bumi Binangun berdampak pada lahan pertanian.
Berdasarkan laporan Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertapa) Kulon Progo, ribuan hektare (Ha) lahan pertanian di delapan kapanewon tergenang air.
Antara lain, Kapanewon Temon, Kapanewon Wates, Kapanewon Panjatan, Kapanewon Galur, Kapanewon Lendah, Kapanewon Sentolo, Kapanewon Pengasih, dan Kapanewon Kokap.
"Totalnya ada 2.893 Ha, terkena banjir. Kini sudah surut hampir 100 persen," terang Kepala Bidang Produksi dan Perlindungan Tanaman Pangan Perkebunan Dispertapa Kulon Progo Wazan Muzakir, Selasa (30/12/2025).
Cuaca hujan lebat dan berkepanjangan menyebabkan lokasi dengan topografi lahan persawahan yang cenderung rendah mudah tergenang air hujan.
Hal ini juga diperparah dengan kondisi saluran drainase.
Sehingga menyulitkan petani membuang air berlebihan yang menggenangi lahan pertanian.
"Ketinggian tanah pertanian hampir sama dengan ketinggian air drainase, jadi harus menunggu air drainase surut," ungkap Wazan.
Baru setelah itu air yang menggenang di sawah dapat dibuang.
Adapun mayoritas pertanian yang terdampak banjir yaitu sawah dengan komoditas padi.
Sebagaimana saat ini memasuki musim tanam padi.
Puncak banjir di lahan pertanian tercatat pada 27-28 Desember 2025.
Meskipn saat ini mulai surut, petani khawatir jika banjir akan mengganggu pertumbuhan tanaman padi.
Wazan menjelaskan upaya yang dapat dilakukan petani menghadapi musim penghujan saat ini yakni dengan membersihkan saluran irigasi atau drainasi secara rutin.
Mencegah saluran air mampet karena sampah sehingga menggenang di lahan pertanian warga.
Di lain sisi tetap memperhatikan informasi cuaca dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisikal (BMKG).
Tujuannya, agar petani melakukan mitigas awal untuk mencegah banjir. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva