Alhasil, ratusan warga melakukan pembersihan eceng gondok yang diduga menyumbat aliran air.
Lurah Karangwuni Anwar Musadad menyampaikan, pembersihan eceng gondok terpusat di sepanjang aliran drainase Kalipeni, Sabtu (27/12). Kegiatan itu dilakukan dari siang hingga malam hari.
"Warga kerja bakti, siang ada ratusan warga dari empat padukuhan, dilanjut malam 30 warga," ucap Anwar, saat dikonfirmasi Radar Jogja, Minggu (28/12).
Anwar menyampaikan, pembersihan sungai dilakukan dengan cara mengangkat eceng gondok serta gulma yang tertanam di dasar aliran.
Warga menggunakan alat tradisional, seperti bambu, tambang, dan parang. Proses itu memakan waktu cukup lama.
Kendala lain saat pembersihan, berkaitan dengan debit air Kalipeni yang meluap.
Lantaran, selama sehari penuh Karangwuni diguyur hujan dengan intensitas sedang. Akan tetapi, masyarakat tetap memaksakan untuk melakukan pembersihan.
"Ada beberapa titik banjir, khususnya area pertanian dan baru ditanami," ungkapnya.
Pembersihan terpaksa dilakukan saat hujan dan debit air tinggi. Pasalnya, banjir telah menggenang di area pertanian.
Jika eceng gondok tak segera diangkat, maka akan menyumbat bagian hilir.
Alhasil, area pertanian tak segera surut, dan berpotensi merusak tanaman. Dampak banjir juga berpotensi meluas hingga Kalurahan Garongan.
Banjir seolah menjadi makanan tahunan warga Karangwuni. Lantaran, setiap tahun banjir merendam wilayah Karangwuni.
Di tahun ini, normalisasi sebenarnya telah dilakukan oleh Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO).
Akan tetapi, normalisasi justru tak dilakukan secara menyeluruh di drainase Kalipeni. Padah jika dilihat dari geografis, Kalipeni di wilayah Karangwuni merupakan bagian hilir.
Semestinya, lebih diprioritaskan dalam normalisasi. Lantaran, sering didapati sumbatan eceng gondok yang menyebabkan aliran air terganggu.
"Dari warga berharap normalisasi lebih diprioritaskan," ungkapnya. (gas)
Editor : Bahana.