Kegiatan rutin setiap bulan ini, mengajak awak media untuk bertegur sapa dengan pelaku UKM. Tentu, produk yang menarik berpotensi diliput oleh media massa secara masif.
"Kali ini press tour akan berkunjung ke salah satu pengrajin alat panah tradisional yang biasanya digunakan untuk jemparingan," ucap Agung, saat menyapa awak media, Rabu (29/10/2025).
Agung mengungkapkan, jemparingan bukan sekedar olahraga panahan tradisional. Di dalamnya, justru memiliki unsur budaya yang perlu dilestarikan.
Press tour lokal mencoba mengangkat unsur jemparingan, sekaligus proses pembuatan dari alat panahan tradisional.
Dengan kunjungan itu, media massa dapat membantu UKM lokal. Bukan hanya bermanfaat pada pelestarian, kegiatan itu diharapkan mampu mengangkat pamor UKM.
Kegiatan seperti ini, telah dilakukan di beberapa UKM lokal. Mulai dari pembuatan jamu, hingga kerajinan bambu.
Turut hadir dalam kegiatan itu, Kepala Dinas Kebudayaan Kulon Progo Joko Mursito menjelaskan, jemparingan menjadi tradisi yang ada sejak Sultan Hamengkubuwono I.
Tak sama seperti panahan, jemparingan mengusung gagrag mataraman dengan keunikan tersendiri. Lantaran, dalam menembakkan anak panah, penembak wajib duduk bersila atau timpuh.
"Saat menarik panah pun berbeda, tidak tegak tetapi miring, kesulitannya jadi lebih tinggi," ujarnya.
Joko menyampaikan, jemparingan memerlukan busur yang bernama gandewa dan anak panah khusus.
Dalam hal ini, tak sembarang pengrajin mampu membuatnya. Lantaran, perlu ketelitian dan pengalaman untuk memilih bahan hingga merakit busur panah.
Kesulitannya juga ditentukan dengan material gandewa yang berasal dari kayu dan bambu.
Presstour lokal mempertemukan awak media dengan Pemilik Rumah Produksi Jemparinganku Joko Triyanto.
Bertempat di rumah produksinya di Padukuhan Ngulakan, Kalurahan Hargorejo, Kapanewon Kokap, Joko menggambarkan proses pembuatan alat panah tradisional.
"Ini sudah berjalan hampir 10 tahun, dan peminatnya terus meningkat," ucapnya.