KULON PROGO - Prediksi musim penghujan di Oktober ini, tak membuat BPBD Kulon Progo berpangku tangan.
Lantaran, permintaan air bersih masih terus berdatangan di masyarakat.
Sehingga distribusi air terus dilakukan.
"Ada delapan titik permintaan droping air bersih, kami telah menyalurkan 10 tanki," ungkap Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik BPBD Kulon Progo Budi Prastawa, Jumat (10/10/2025).
Delapan titik droping air tersebut, berasal dari tiga kapanewon.
Di antaranya, Kapanewon Girimulyo, Kapanewon Samigaluh dan Kapanewon Kalibawang.
Ketiga wilayah ini, menjadi langganan kekeringan.
Lantaran, warga masih menggunakan sumur dangkal untuk mendapat air bersih.
"Kabanyakan permintaan air bersih didistribusikan ke fasilitas umum, baik fasilitas peribadahan ataupun puskesmas," terang Budi.
Di lain sisi masyarakat secara kolektif juga meminta dropoing air untuk kebutuhan rumah tangga.
BPBD Kulon Progo tahun 2025 telah menyiapkan anggaran reguler untuk penanganan kekeringan.
Total terdapat 24 tangki berukuran lima ribu liter.
Dengan 10 yang telah digunakan, otamatis sisa distribusi air masih 14 tangki.
Namun, tak perlu khawatir pohaknya juga telah menerima bantuan distribusi air dari beberapa instansi.
"Kalau habis masih ada lagi, 50 tangki dari Baznas dan 30 tangki dari Dinsos DIY," ungkapnya.
Sebenarnya, BPBD Kulon Progo memprediksi tak ada permintaan dropping air di tahun ini.
Lantaran, pihaknya berpegang pada prediksi musim yang dikeluarkan BMKG.
September maupun Oktober menjadi bulan yang diprediksi hujan lebat.
Sehingga, daerah rawan kekeringan seharusnya tak berdampak.
Namun, kondisi Bumi Binangun akhir-akhir ini cenderung cerah berawan.
Sebelumnya, Kepala Stasiun Meteorologi Yogyakarta Warjono menyampaikan, musim penghujan dapat terjadi pada Oktober ini.
Pihaknya juga memprediksi adanya potensi cuaca ekstrim.
Lantaran, banyak bermunculnya awan akibat pemanasan muka air laut.
"Ada pemanasan muka air laut, membuat munculnya banyak awan," ungkapnya. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva