Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Meroketnya harga cabai di pasaran tak berbanding lurus dengan kesejahteraan petani. Keuntungan petani masih tipis.

Anom Bagaskoro • Selasa, 23 September 2025 | 03:17 WIB
BERBIAYA TINGGI: Seorang petani membersihkan rerumputan yang tumbuh di sekitar tanaman cabai miliknya di Kalurahan Bugel, Kapanewon Panjatan, kemarin (22/9).
BERBIAYA TINGGI: Seorang petani membersihkan rerumputan yang tumbuh di sekitar tanaman cabai miliknya di Kalurahan Bugel, Kapanewon Panjatan, kemarin (22/9).

KULON PROGO - Meroketnya harga cabai di pasaran tak berbanding lurus dengan kesejahteraan petani. Keuntungan petani masih tipis. Sebab, biaya operasional perawatan tanaman berasa pedas itu cukup tinggi.

 

”Harga pupuk dan obat-obatan mahal,” jelas Gledhek Adi Kusumo menyinggung penyebab tingginya biaya operasional perawatan cabai saat ditemui di rumahnya, Senin (22/9).



Warga Kalurahan Bugel, Kapanewon Panjatan, ini tak menampik pemerintah menyediakan pupuk bersubsidi. Namun, kualitas pupuk dengan harga murah itu kurang begitu baik.

 

”Tidak membuat panennya maksimal. Jadi, perlu pupuk tambahan,” ucapnya.

 

 

Karena itu, Gledhek mengklaim, hanya memperoleh keuntungan Rp 5.000 per kg. Meski, harga cabai di pasaran sedang tinggi-tingginya.

 

”Tantangan petani di musim yang tak menentu ini sangat banyak,” katanya.

 

Berapa harga jual cabai terakhir? Petani muda ini menyebut, kali terakhir menjual cabai keriting dengan harga Rp 54 ribu per kilogram. Petani di pesisir selatan Kulon Progo juga mematik harga tinggi. Harga cabai rawit merah, misalnya, dipatok Rp 39 ribu per kg dan cabai rawit hijau Rp 28 ribu per kg. Harga jual ke tengkulak itu cukup tinggi.

 

Tingginya harga cabai, Gledhek mengungkapkan, akibat mayoritas petani belum panen. Sehingga, tingginya permintaan di pasaran mengerek harga cabai.

 

Di tempat terpisah, Jumiati, seorang pedagang di Pasar Bendungan mengungkapkan, harga cabai belakangan konsisten naik Rp 2 ribu tiap minggu. Harga cabai keriting merah, misalnya, tembus Rp 54 ribu per kg.

 

”Cabai jenis lain pun juga naik. Kecuali rawit hijau,” ujarnya.

 

Akibat meroketnya harga cabai, Jumiati mengeluh, omzet penjualannya anjlok hingga 50 persen. Pembeli memilih mengurangi belanjaannya.

 

”Sekarang cari cabai juga susah,” tambahnya. (gas/zam)

 

Editor : Herpri Kartun
#cabai #Petani #omzet