Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kendati Memiliki Peluang Sama, Tenaga Kerja Disabilitas di Kulon Progo Enggan Bekerja di Sektor Formal

Anom Bagaskoro • Jumat, 19 September 2025 | 10:30 WIB

 

Kendati Memiliki Peluang Sama, Tenaga Kerja Disabilitas di Kulon Progo Enggan Bekerja di Sektor Formal
Kendati Memiliki Peluang Sama, Tenaga Kerja Disabilitas di Kulon Progo Enggan Bekerja di Sektor Formal

 

KULON PROGO – Kelompok disabilitas memiliki kesempatan yang sama untuk bekerja di sektor formal, baik pemerintahan maupun swasta. Namun, di Kulon Progo, tenaga kerja disabilitas justru lebih memilih bekerja di sektor informal, salah satunya berwirausaha.

Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kulon Progo, Bambang Sutrisno, menyampaikan temuan tersebut. Berdasarkan penelusuran pihaknya, banyak tenaga kerja disabilitas enggan bekerja di sektor formal.

“Serapan tenaga kerja disabilitas sudah baik, hanya untuk sektor formal ada beberapa kendala,” ucap Bambang, Kamis (18/9).

Pria yang akrab disapa Bamsut itu menyatakan bahwa tenaga kerja disabilitas di usia produktif tidak memiliki ketertarikan untuk bekerja di sektor formal. Meskipun sektor formal menawarkan berbagai benefit seperti kontrak kerja dan jaminan perlindungan, tidak banyak kelompok disabilitas yang bekerja di sini.

Masalah utamanya terletak pada minat tenaga kerja disabilitas yang cenderung rendah. Sebagian besar tenaga kerja kurang percaya diri terhadap kemampuan mereka, mengingat kondisi fisik yang memiliki hambatan, seperti keterbatasan gerak atau pendengaran.

Padahal, Disnaker Kulon Progo telah bekerja sama dengan perusahaan dan instansi untuk menjamin kesempatan kerja bagi tenaga kerja disabilitas. Jaminan tersebut berupa penyesuaian kewajiban kerja sesuai kondisi hambatan disabilitas.

“Dua tahun lalu, misalnya, ada lowongan CPNS dengan empat formasi untuk disabilitas, tapi tidak ada pendaftar,” ungkapnya.

Minat kerja di sektor formal ini juga dapat dilihat dari rendahnya pendaftaran di lowongan pemerintahan. Meskipun sudah menyediakan formasi khusus untuk disabilitas, lowongan tersebut justru tidak terisi, sehingga kesempatan kerja menjadi sia-sia.

Hal serupa juga terjadi pada lowongan pekerjaan di perusahaan swasta. Meskipun mendapatkan kuota 1% untuk tenaga kerja disabilitas, minat mendaftar masih sangat rendah. Padahal, peluang diterima cukup besar.

“Kebanyakan mereka bekerja di sektor nonformal, sehingga kami melakukan berbagai pendampingan,” ujarnya.

Tercatat ada 425 tenaga kerja disabilitas di usia produktif yang memilih bekerja di sektor informal. Sebagian besar dari mereka berwirausaha, seperti berjualan hingga beternak.

Menanggapi temuan tersebut, Disnaker Kulon Progo mengadakan pendampingan berupa pelatihan kerja. Pada tahun 2025, terdapat dua pelatihan kerja untuk disabilitas dengan tujuan meningkatkan kapasitas tenaga kerja disabilitas agar lebih siap berwirausaha.

Sementara itu, seorang disabilitas asal Sukoreno, Yarodi, membenarkan pilihan bekerja di sektor informal. Dengan keseharian menggunakan kursi roda, ia merasa enggan bekerja di perusahaan maupun pemerintahan.

“Lebih nyaman beternak, waktu muda juga saya memilih kerja serabutan,” ungkapnya. (gas)

 

Editor : Heru Pratomo
#kelompok disabilitas #Kulon Progo #wirausaha #sektor formal #disnaker #bambang