Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Gropyok Sawah, Petani Wahyuharjo Berhasil Tangkap Ratusan Tikus Hanya Dalam Dua Jam

Anom Bagaskoro • Jumat, 5 September 2025 | 20:58 WIB
BERJAGA: Petani menggali pematang sawah untuk mengrluarkan tikus dari sarang. 
BERJAGA: Petani menggali pematang sawah untuk mengrluarkan tikus dari sarang. 

KULON PROGO - Warga Kalurahan Wahyuharjo, Kapanewon Lendah, Kulon Progo memiliki tradisi unik gropyok sawah.

Tradisi gropyok sawah dilakukan untuk membasmi hama dan gulma yang berpotensi merusak tanaman petani.

Salah satunya, hama tikus atau hewan yang kerap disebut "Den Baguse Ngarso".

 

Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Wahyuharjo Tukiyana menyampaikan, gropyok sawah merupakan tradisi lokal yang membudaya dan hingga kini masih dilestarikan.

Warga berbondong-bondong dan bergotong-royong berburu hama tikus.

Metode ini diklaim lebih efektif dibandingkan dengan cara lain.

"Dilakukan menjelang musim tanam saat akan semai (padi, Red) seperti ini," terang Tukiyana, saat ditemui Radar Jogja usai kegiatan gropyok tikus di Bulak Bulu, Jumat (5/9/2025).

Sekadar informasi, istilah gropyok sama halnya dengan gerakan pengendalian organisme pengganggu tanaman (Gerdal OPT). 

Selain mengendalikan hama tikus, OPT lainnya berupa pengendalian wereng batang coklat (WBC), penggerek batang padi, ulat grayak dan penanggulangan penyakit seperti blast padi atau layu fusarium. 

Pria yang akrab disapa Tukiya ini menyampaikan, gropyokan merupakan cara tradisional membasmi hama tikus.

Jelang musim tanam, petani di Bulak Bulu dan Sungapan, Kalurahan Wahyuharjo rutin menggelar gropyokan.

Ada ratusan petani, yang ikut serta dalam tradisi ini.

Berbekal cangkul, dan alat tradisional lain, petani akan membongkar pematang sawah yang dicurigai menjadi sarang tikus.

Kebanyakan sarang tikus memiliki lubang di sekitar pematang dengan dimensi, 5-10 cm.

Petani memiliki teknik khusus dalam membongkar pematang.

Awalnya, mereka akan membongkar lubang sarang tikus di satu sisi.

Lubang tikus yang biasanya saling terhubung, akan ditunggu petani lain yang membawa tongkat kayu.

GROPYOKAN TIKUS: Petani berhasil menangkap tikus setelah menggali pematang sawah.
GROPYOKAN TIKUS: Petani berhasil menangkap tikus setelah menggali pematang sawah.

Biasanya tikus akan merasa terganggu dan terpojok, sehingga keluar dari lubang.

Saat itulah, petani yang berjaga akan memukul tikus tepat setalah keluar lubang.

"Kami juga menggunakan empos bantuan dinas pertanian, untuk membuat asap di dalam lubang," ujarnya.

Jika ditmukan lubang berjumlah banyak dalam satu pematang, petani akan menggunakan empos.

Empos merupakan alat yang dibakar dan menghasilkan asap.

Setiap lubang yang terhubung akan diasapi dan ditambal tanah.

Namun, satu lubang dibiarkan terbuka.

Tujuannya agar tikus terarah keluar dari lubang terbuka, akibat terpojok asap.

Momen gropyokan tergolong ramai.

Bukan hanya jumlah petani yang hadir, melainkan keseruan dari gropyokan. Petani yang berjaga akan berusaha memukul tikus.

Terkadang tikus yang gesti harus dikejar cukup jauh.

"Hanya beberapa jam saja ini sudah 200 tikus, lebih efektif daripada di obat," ucapnya.

Gropyokan yang merupakan bagian dari tradisi nyatanya menjadi metode efektif dalam mencegah persebaran hama tikus.

Hal ini dibenarkann Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan Kapanewon Lendah, UPT Balai Proteksi Tanaman Pertanian Yuke Kusumayanti.

"Gropyokan lebih efektif daripada menggunakan racun atau sering disebut obat tikus," ujarnya.

Wanita yang turut hadir dalam gropyokan itu menyampaikan, obat tikus yang terbuat dari rodentisida terkdang tak efektif.

Lantaran, tikus memiliki perilaku menandai makananya secara berkelompok.

Jika petani memasang makanan yang telah dicampur racun, dan mematikan satu tikus saja makan kelanjutannya tak akan efektif.

Pasalnya, tikus akan memakan jebakan yang dipasang oleh petani.

Pengendalian hama tikus dirasa penting. Pihaknya memprediksi musim tanam kali ini akan banyak populasi hama tikus.

Pasalnya, dari tahun ke tahun hama tikus cenderung meningkat. Hal ini juga diperkuat dengan pola tanam palawija sebelum musim tanam padi. 

Tradisi membasmi hewan pengerat ini tergolong efektif menjelang musim tanam padi.

Hanya dalam dua jam ratusan tikus berhasil dikumpulkan. (gas)

Editor : Meitika Candra Lantiva
#Balai Proteksi Tanaman Pertanian #Kalurahan Wahyuharjo #hama #Kulon Progo #Kapanewon Lendah #Gropyok Sawah #Gerdal OPT #gulma #Tangkap Ratusan Tikus #Petani Wahyuharjo #gapoktan #sawah