Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Dulu Dianggap Tak Bernilai, Kemukus Rempah Asli Perbukitan Menoreh Punya Nilai Ekonomis Tersendiri

Anom Bagaskoro • Senin, 28 Juli 2025 | 01:30 WIB

CUAN: Feri memanen kemukus yang ditanam sebagai peneduh pohon kopi miliknya.
CUAN: Feri memanen kemukus yang ditanam sebagai peneduh pohon kopi miliknya.
Rempah asli Indonesia dulu diperebutkan bangsa asing, kini kian meredup. Bahkan beberapa tanamannya mulai jarang ditanam atau ditemui di masyarakat.

Kegelisahan itu, membuat kelompok Tani Astabrata Pagerharjo membangkitkan kembali rempah bernama kemukus, atau lada ekor yang disebut sebagai emas hitam Perbukitan Menoreh.

ANOM BAGASKORO, Kulon Progo

Di hamparan perkebunan kopi yang masuka dalam wilayah Kalurahan Pagerharjo, Kapanewon Samihaluh ada dua anak muda yang sibuk merawat tanaman.

Satu merawat tanaman kopi, yang tengah bermekaran bunganya, dan satu pemuda lagi sedang memanen buah dari tanaman rambat.

"Ini namanya kemukus atau lada jawa, sering disebut juga lada berekor," ucap salah satu pemuda itu ke Radar Jogja, Minggu (27/7).

Pemuda itu adalah Agustinus Sulistyo, yang kini bersama pemuda lainnya membangun kelompom tani Astabrata Pagerharjo.

Selama tiga tahun terakhir, kelompok ini telah mengembangkan pertanian kopi. Namun, fokusnya kini bertambah menjadi pertanian kopi dan kemukus.

Bersama rekannya Albertus Ferry, Tyo sapaan akrabnya kembali membangkitkan emas hitam dari Perbukitan Menoreh.

Nama emas hitam merujuk pada buah dari tanaman piper cucuba atau kemukus. Seperti namanya, buah kemukus dipanen dan dikeringkan hingga bewarna hitam legam dengan harga jual cukup tinggi.

"Kemukus itu dari dulu sudah ada, makanya ciri khas kopi di sini berbau rempah-rempah," ucapnya.

Tyo menjelaskan, kemukus sudah ada sejak dahulu kala. Disinyalir kemukus merupakan rempah-rempah yang dulu dicari penjajah di masa kolonial.

Buah kemukus berbentuk bulatan kecil berukuran satu milimeter itu, memiliki cita rasa pedas dengan rasa dan bau yang wangi.

Menurut masyarakat sekitar, zaman kolonial kemukus ditanam bersamaan dengan pohon kopi pada periode tanam paksa atau cultur stelsel.

Namun setelah masa kemerdekaan, masyarakat mulai beralih menanam cengkih yang lebih menguntungkan. Membuat tanaman kopi dan kemukus ditinggalkan. Padahal tanam kemukus sebenarnya sangat menguntungkan dengan pemanfaatan lahan yang maksimal.

"Saat mengembangkan pertanian kopi kembali, ternyata kemukus cocok menjadi tanaman pendamping," ucapnya.

Baca Juga: Hingga Pertengahan Tahun 2025, Pemkot Jogja Catat Capaian Pajak Homestay Sentuh Rp 338,5 Juta

Di akhir tahun 2024, kelompok taninya telah berhasil mengembangkan pertanian kopi hambaran dan siap dipanen setiap tahunnya.

Namun, pemanfaatan lahan pertanian kurang optimal. Dari situ, kelompok tani mulai menganalisis tanaman yang cocok. Menarik dari sejarah, kemukus kembali dihadirkan kembali.

Kemukus merupakan tanaman merambat, dengan siklus berbuah berdekatan. Sifat tanaman yang merambat inilah yang menguntungkan tanaman kopi milik masyarakat.

Lantaran, tanaman kopi membutuhkan tanaman penaung. Namun tak boleh tanaman penaun yang rimbun, membuat pertumbuhan kopi terhambat.

Selama ini, kopi menggunakan pohon penaung seperti teresede ataupun tanaman yang tak bisa bermbah tinggi.

Akibatnya, kebanyakan tanaman penaung tak produktif, padahal jarak tanam kopi cukup jauh dan perlu mengoptimalkan lahan yang ada.

"Nah kemukus ini, bisa ditanam merambat dengan penaung yang ada, mengoptimalkan lahan untuk mrnambah penghasilan," ujarnya.

Jika dalam satu hektare tanah, tanaman kopi bisa mencapai dua ribu pohon, biasanya tanaman kemukus bisa ditanam sejumlah 500 pohon.

Tentunya tanaman ini memberikan nilai ekonomis bagi petani kopi. Lantaran dari segi produktivitas dan harga jualnya tergolong tinggi.

"Satu pohon menghasilkan tiga kilogram mukus basah, kalau dikeringkan sekitar satu kilogram," ujarnya.

Harga kemukus kering biasanya dibandrol Rp 35 ribu per kilogram. Saat ini, satu petani kopi di Pagerharjo bisa menjual ratusan kemukus kering. Tentunya, hal ini menambah perekonomian petani kopi. Lantaran, kopi tak setiap hari bisa dipanen, tergantung musim dan produktivitas tanamanya.

Tyo menjelaskan, kelompok taninya kini bisa mulai mandiri. Tak hanya mengembangkan olahan kopi dari hulu hingga hilir, Astabrata berinovasi untuk membangkitkan emas hitam Perbukitan Menoreh.

Rencana kelompoknya juga akan mengembangkan produksi hulu hilir kemukus. Pasalnya kemukus olahan memliki harga jual cukup tinggi.

"Sedang mengembangkanpenyulingan kemukus, cairan kemukus biasanya untuk parfum," ungkapnya. (gas)

Editor : Bahana.
#kemukus #rempah #Kulon Progo