KULON PROGO - Kasus leptospirosis tahun ini tergolong tinggi.
Hingga pertengahan tahun, angkanya sudah 26 kasus.
Sudah ditemukan kematian. Namun, Pemkab belum menetapkan status kejadian luar biasa (KLB).
"26 kasus, lima di antaranya menyebabkan kematian," sebut Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kulon Progo Sri Budi Utami, saat ditemui Radar Jogja, Kamis (24/7/2025).
Menurutnya, tingkat fatalitas kasus leptospirosis tergolong tinggi.
Angka 20 persen dari total kasus menjadi kewaspadaan tersendiri, setidaknya mencegah kenaikan jumlah kasus.
Kendati cukup tinggi, Dinkes Kulon Progo belum menetapkan status KLB.
Sebab, setelah ditelusuri, Dinkes menemukan lima angka kematian terindikasi terpapar leptospirosis.
Namun tidak semata-mata karena leptospirosis, melainkan, terdapat riwayat penyakit lainnya.
"Kami tidak menetapkan KLB, tetapi kewaspadaan perlu ditingkatkan," ungkapnya.
Budi menjelaskan, leptospirosis atau penyakit kencing tikus tergolong penyakit menular, yang ditularkan melalui hewan.
Korban yang mudah terpapar, umumnya mereka yang beraktivitas di area persawahan atau tempat yang kumuh dan cenderung berair.
Petani adalah kelompok rentan terpapar penyakit ini.
Dan apabila diruntut dari mata pencaharian, korban yang terpapar leptospirosis rata-rata berprofesi sebagai petani.
Mengapa demikian?
Jika dilihat dari kebiasaan petani di Kulon Progo, kurang memperhatikan atribut yang aman saat bertani.
Misalnya tidak menggunakan APD seperti sepatu, atau pakaian yang lebih tertutup saat berladang.
Selain itu, kondisi geografis Bumi Binangun, yang dekat dengan area persawahan dapat menjadi zona persebaran leptospirosis.
Tikus pembawa bakteri leptospirosis menjangkau wilayah pemukiman dan bisa mewabah ke masyarakat luas.
Kendati begitu perlunya menjaga pola hidup bersih dan sehat.
"Penerapan PHBS menjadi kunci, kalau petani saat tidak enak badan jangan memaksakan diri ke sawah," ujarnya.
Pihaknya menghimbau agar masyarakat menerapkan kewaspadaan terhadap penyakit ini.
Sebab, siapa saja bisa terinfeksi. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva