KULON PROGO - Masyarakat Perbukitan Menoreh di Puncak Suroloyo memiliki cara unik memperingati satu Muharam atau Satu Suro.
Mereka menggelar rangkaian kegiatan kirab dan jamasan di titik tertinggi Bumi Binangun, Jumat (27/6/2025).
Juru Kunci Suroloyo Ki Surakso Kemat menyampaikan, tradisi kirab dan jamasan berawal saat wilayah Suroloyo mendapat titipan pusaka dari Keraton Ngayogyakarta.
Terdapat dua pusaka, di antaranya Tombak Kyai Manggala Murti dan Songsong Kyai Makuta Dewa.
Kedua pusaka merupakan pemberian Sri Sultan HB IX, pada tahun 1986.
"Sejak tahun dititipkannya kedua pusaka itu, kami warga masyarakat menggelar acara tradisi jamasan setiap Satu Suro," ucap Surakso, saat ditemui Radar Jogja usai jamasan, Jumat (27/6/2025).
Tradisi jamasan sejak HB IX ini, terus diturunkan sebagai warisan anak cucu.
Setahun sekali jamasan dilakukan dan hingga kini masih lestari.
Prosesi Jamasan diikuti Ratusan Masyarakat Puncak Suroloyo
Prosesi jamasan digelar semarak di Puncak Suroloyo.
Ratusan warga hadir, terkhusus warga Padukuhan Keceme, Kalurahan Gerbosari, Kapanewon Samigaluh.
Tradisi jamasan dimulai, pada malam satu Suro, atau Kamis (26/6/2025) malam.
Masyarakat berkumpul di rumah juru kunci Suroloyo untuk melakukan tirakatan.
Mereka melakukan doa bersama, memanjatkan rasa syukur dan harapan di tahun berikutnya.
Tirakatan juga ditambah dengan kendhuri, yang disediakan warga sekitar.
Keesokan paginya, Jumat (27/6/2025), tepat pukul 09.00 WIB, berlangsung rangkaian kegiatan yang dilanjutkan dengan upacara adat berupa kirab.
Mengawali kirab, juru kunci Suroloyo akan membuka dua pusaka yang selama ini telah disimpan rapi.
Kedua pusaka lantas dibawa sesepuh dan pemangku adat Puncak Suroloyo.
Selanjutnya, pusaka diarak dengan dikawal bregodo.
Pusaka Diarak, Kirab Hadirkan Gunungan Hasil Bumi
Untuk memeriahkan kegiatan, digelar kirab dengan menghadirkan gunungan hasil bumi berupa jajanan pasar, bunga, sayur-sayuran dan buah-buahan.
Masyarakat Padukuhan Keceme turut serta dalam barisan.
Mereka kompak menggunakan, pakaian adat Jawa.
"Dari gedung pusaka, kirab pembawa pusaka akan berjalan kaki menuju tempat jamasan di Sendang Kawidodaren," ungkapnya.
Di pertengahan jalan, kirab akan berhenti sejenak untuk melakukan pemeriksaan dua pusaka peninggalan HB IX.
Prosesi ini, disebut upacara Lung Tinampen Pusaka.
Setelah pemeriksaan, pusaka dan kirab akan dibawa menuju Sendang Kawidodaren.
Perjalanan sekitar 600 meter dengan medan terjal dari titik awal kirab hingga Sendang Kawidodaren tak membuat proses tradisi ini berhenti begitu saja.
Justru ketika memasuki, Sendang Kawidodaren kegiatan utama tradisi Suro baru dimulai.
Sendang Kawidodaren yang hanya berjarak 200 meter dari Puncak Suroloyo akan menjadi lokasi utama jamasan.
Sendang yang kini telah dipugar dengan membentuk kolam sepanjang 15 meter x 3 meter ini dijadikan tempat pembersihan kedua pusaka.
Sebelum menyiram pusaka dengai air dari Sendang Kawidodaren, juru kunci dan pemangku adat akan menggelar upacara jamasan.
Kemudian, setalah selesai dilanjutkan dengan pengguyuran air sendang ke kedua pusaka. Tak luput, potongan jeruk nipis ikut digosokkan ke pusaka.
Tujuannya, agar pusaka terhindar dari karat. Proses ini dilakukan secara berulang kali.
Setelah jamasan selesai, pusaka akan disimpan untuk sementara waktu di ruang penyimpanan senjata di Sendang Kawidodaren.
Berakhirnya jamasan, bukan berarti tradisi ini selesai. Lantaran, warga dan pengunjung Puncak Suroloyo justru menunggu momen ini.
"Gunungan hasil bumi, termasuk jajanan pasar yang dibawa dalam kirab boleh dirayah," ungkapnya.
Dalam rayahan dua gunungan berisi hasil bumi, masyarakat cukup antusias.
Lantaran, gunungan dipercaya membawa berkah tersendiri.
Utamanya, hasil bumi berupa kopi dan teh yang cukup digemari masyarakat.
Surakso mengungkapkan, jamasan merupakan wujud rasa syukur atas pemberian Tuhan ke masyarakat Suroloyo.
Terutama ucaoan terimakasih ke HB IX, yang menitiokan pusakanya ke Suroloyo.
Warga sekitar berpendapat, semenjak kedua pusaka dititipkan di Suroloyo, rejeki dan hasil bumi mereka ikut mendapat berkah.
Sementara itu, Pengunjung Puncak Suroloyo Anastasia Tumilah menjelaskan keikutsertaanya dalam kirab.
Kendati bukan warga lokal, dirinya mengikuti kirab dari belakang barisan.
Saat rayahan, perempuan paro baya ini ikut berparstisipasi. Alhasi, hasil bumi dari gununga bisa dibawa pulang.
"Ngalap berkah, semoga setahun ke depan kami sekeluarga diberi keselamatan dan rejeki yang banyak," ungkapnya. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva