KULON PROGO - Waktu muda adalah hal yang tidak bisa dibeli. Hal ini menjadi pegangan, seorang Fachri Yusufi, 28, pemuda asal Kapanewon Wates yang berani terjun memulai bisnis. Tak tanggung-tanggung, bisnis yang dirintis memiliki pesaing kuat dengan pasar tergolong minim. Bisnisnya berupa produksi dan penjualan cokelat.
Pemilik Cokelat Makarya, Fachri Yusufi mengungkapkan, awal ketertarikannya dengan bisnis cokelat seperti tak disengaja. Lantaran, dia menemui kesulitan saat hendak mencari oleh-oleh khas Kulon Progo. Kebanyakan oleh-oleh khas Kulon Progo memiliki masa simpan yang terbatas.
"Dulu sering berpergian bawa oleh-oleh, tetapi kebanyakan oleh-oleh daya simpan paling lama hanya enam bulan," ucap Fachri, saat ditemui Radar Jogja, Jumat (20/5/2025).
Fachri mengungkapkan, dari situlah dirinya ingin membuat produk oleh-oleh dengan daya tahan lama. Akan tetapi, produk tak kunjung bisa direalisasikan. Tibalah saat Fachri berkunjung di sebuah kebun kakao di Kapanewon Girimulyo di tahun 2015. Dari situlah dirinya mulai tertarik dengan produk berbahan kakao, yang akrab disebut cokelat.
Tak asal memulai bisnis, Fachri memerlukan waktu tiga tahun untuk bisa memproduksi sebuah produk oleh-oleh cokelat. Selama tiga tahun itu, waktunya dihabiskan untuk belajar mengenai produksi cokelat. Tak tanggung-tanggung, ilmu produksi cokelat didapat dari daerah Jawa Timur. Sedangkan untuk variasi cokelat didapat dari wilayah Jawa Barat.
"Harus belajar dari nol, ditambah riset agar ada variasi produk supaya diterima pasar," ungkapnya.
Fachri menjelaskan, belajar memang harus dilalui dalam bisnis cokelat. Lantaran, cokelat telah banyak ditemui dan dikonsumsi masyarakat. Utamanya perihal variasi, dirinya harus meriset variasi rasa yang dapat diterima pasar.
Tepat tahun 2018, cokelat pertamanya berhasil di produksi dengan merk Cokelat Makaryo. Berawal dari satu produk cokelat batangan dengan harga terjangkau, nama Cokelat Makaryo mulai dikenal masyarakat Kulon Progo. Mulai dari situ, dengan modal Rp 50 juta dirinya mengembangkan produksi cokelat dari hulu hingga hilir.
Tak berpuas diri, Cokelat Makaryo terus dikembangkan hingga berbagai variasi. Hingga kini, terdapat puluhan variasi cokelat yang selalu laku dan diminati. Tak jarang, cokelat menjadi oleh-oleh pendamping makanan khas Kulon Progo.
Berkat keuletan dan langkah strategisnya, Cokelat Makaryo mulai dikenal konsumen luar daerah. Utamanya konsumen yang hendak menikmati varian rasa lain dari cokelat. Setiap bulannya, omzet rata-rata penjualan cokelat mencapai Rp 25 juta.
"Dalam berbisnis dimulai dari belajar, dan langsung terjun saja," ucapnya.
Sebagai seorang pemuda, dirinya ingin memanfaatkan waktu untuk berbisnis sedini mungkin. Tentunya dalam memulai bisnis perlu keberanian. Akan tetapi, ilmu bisnis tak boleh dilupakan. Lantaran, akan menentukan keberlanjutan bisnis yang dibangun. (gas)
Editor : Iwa Ikhwanudin