Raut cemas, kecewa, dan kebingungan tergambar jelas pada warga SD Negeri 4 Wates.
Sudah pukul 10.00 WIB, sekolah mereka tak segera dikunjungi mobil pengantar paket Makan Bergizi Gratis (MBG).
Usut punya usut, keterlambatan pengantaran diakibatkan paket MBG yang tak jadi diantar akibat tak layak konsumsi, makanan basi.
ANOM BAGASKORO, Kulon Progo.
Waktu menunjukkan pukul 10.00 WIB.
Siswa SDN 4 Wates mulai membubarkan diri, setelah guru mereka memutuskan untuk memulangkan mereka.
Terlihat dari balik gerbang, seorang seorang guru perempuan cukup cemas memulangkan siswa-siswanya.
Bukan tanpa sebab, kepulangan siswanya dirasa ada yang mengganjal.
Lantaran, belum melaksanakan program Makan Bergizi Gratis.
Program besutan Presiden Prabowo Subianto itu, baru berlangsung sekitar dua hari di sekolah mereka.
"Kalau kemarin sesuai jadwal, pukul 08.30 WIB makanan sudah sampai," ucap perempuan yang sedari tadi berdiri cemas, ternyata ia Kepala SD Negeri 4 Wates Harni Astuti, saat ditemui Radar Jogja, Selasa (17/6/2025).
Harni mengungkapkan, kendati baru hari kedua mendapat MBG, anak didiknya cukup berharap banyak mendapat paket makanan.
Lantaran, anak-anak cukup antusias di awal program berlangsung. Pada hari pertama dimulai, siswa antusias memakan paket MBG yang berlauk daging ayam dan sayur.
Di hari kedua, paket MBG ternyata tak kunjung diterima. Bahkan sebagai guru, merasa kebingungan akibat jadwal pengantaran tak sesuai.
"Anak-anak sempat tanya, kok makanannya belum sampai bu," ucap Harni saat menceritakan kembali keluh kesah anak didiknya.
Harapan siswa SDN 4 Wates pun pupus. Lantaran, sekitar pukul 09.00 WIB Harni mendapat informasi pengantaran paket MBG terkendala.
Melalui pesan whatsapp, SPPG penyedia MBG justru mengabarkan adanya kendala teknis.
Melalui pesan singkat dari penyelenggara, MBG tak bisa berjalan sesuai mestinya.
Lantaran, pihak SPPG menarik kembali paket MBG yang hendak didistribusikan.
Kendala teknis membuat paket ditarik dari peredaran.
Sedangkan, sekolah diminta menunggu penggantian paket MBG.
"Diminta untuk menunggu proses penggantian paket MBG," ungkapnya.
SDN 4 Wates yang kala itu tengah menyelenggarakan Asesment siswa tak bisa menunggu proses penggantian makanan.
Lantaran, asesment dari sekolah membuat jadwal pelajaran reguler berubah.
Semula siswa dipulangkan sekitar pukul 12.00 WIB, karena asesment siswa dipulangkan lebih awal.
Tak mau membuat wali dan siswa menunggu, pihak sekolah memutuskan memulangkan 300-an anak didiknya.
Akhirnya, siswa dipulangkan sebelum mendapatkan asupan makanan yang diklaim sehat dan menunjang pembelajaran.
Usut punya usut, pengantaran MBG yang terlambat bukan akibat kendala teknis.
Pantauan Radar Jogja menunjukkan adanya temuan paket MBG yang tak layak konsumsi akibat makanan basi.
Dari informasi yang terkumpul ada 1.600 porsi MBG yang ditarik kembali. Lantaran, temuan lauk basi, membuat potensi lauk lainnya terkontaminasi.
Hal ini dibenarkan, Sekretaris Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Kulon Progo Nur Hardiyanto.
Peninjauan timnya, temuan lauk basi pada awalnya diketahui guru TK Pembina.
Kemudian dilaporkan ke SPPG. Mengambil sikap atas temuan itu, SPPG lantas menarik seluruh paket makanan yang telah terkirim ke sekolah.
"Ditemukan makanan basi pada lauk berupa bakmi," ungkapnya.
Nur mengungkapkan, temuan segera ditindaklanjuti oleh pengelola SPPG.
Secara tersirat, Dinas Dikpora menyampaikan, SPPG bertanggungjawab dengan mengganti paket MBG.
Akan tetapi, kebanyakan sekolah telah memulangkan siswanya. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva