KULON PROGO - Bumi Binangun kini memiliki batik dua batik baru pengganti Geblek Renteng. Yakni batik Songsong Agung Ngambararum dan Bingangun Kertoraharjo. Kedua batik ini menjadi simbol identitas baru.
Pada awalnya, pembaruan model batik yang dilakukan oleh pemerintahan yang baru dianggap sarat unsur politis. Lantaran, Geblek Renteng langsung diberangus dari peredaran. Dianggap sebagai entitas yang sangat erat dengan sosok Hasto Wardoyo. Namun, peluncuran batik pengganti Geblek Renteng justru menimbulkan pertanyaan.
Baca Juga: USD Gelar Konferensi Internasional Produk Alami Berkelanjutan
Sekretaris Daerah Kulon Progo Triyono mengungkapkan, peluncuran batik merupakan tindak lanjut atas instruksi bupati. Lantaran, Bupati yang baru menginginkan batik yang sesuai marwah Bumi Binangun.
"Kembali ke Gunungan, batik akan menambah khasanah motif di Kulon Progo," ungkapnya.
Batik yang diluncurkan akan menambah motif khas Kulon Progo. Sebenarnya Bumi Binangun memilik batik khas. Di antaranya motif Gelaran, Gringsing, dan Geblek Renteng.
Baca Juga: PSIM Jogja Akan Rekrut 28 hingga 30 Pemain di Liga 1, Segera Umumkan Pendamping Rafinha
Motif baru yang diperkenalkan merupakan hasil dari karya beberapa asosiasi pembuat batik di Kulon Progo. Tentunya, mereka melewati beragam kurasi dari akademisi dan kurator lain.
Informasi yang dihimpun Radar Jogja, batik Songsong Agung Ngambararum menjadi batik resmi yang akan digunakan untuk area perkantoran. Pemilihan nama Songsong Agung Ngambararum erat kaitannya dengan bahasa Jawa yang jarang digunakan kehidupan sehari-hari. Songsong memiliki arti simbol perlindungan. Agung berarti kemulian. Sedangkan Ngambararum, memiliki makna menyebarkan wewangian. Uniknya, nama baru batik ini ada kata yang menyiratkan sosok bupati Agung dan wakilnya Ambar.
Sementara batik Binangun Kertoraharjo, disebut akan digunakan untuk lingkup sekolah. Memiliki makna tersendiri. Binangun merupakan simbol gunungan yang sejak berdirinya Kulon Progo telah ada. Sedangkan, Kertoraharjo merupakan makna kemakmuran, kedamaian, dan keselamatan. (gas)
Editor : Sevtia Eka Novarita