KULON PROGO - Instruksi Presiden Nomer 7 Tahun 2025 menjadi angin segar bagi sekolah-sekolah.
Lantaran, inpres ini secara khusus menyebutkan revitalisasi satuan pendidikan.
Di Kulon Progo terdapat 10 sekolah yang nantinya akan mengalami perbaikan.
Sekretaris Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Kulon Progo Nur Hardiyanto membenarkan perihal program gagasan pusat itu.
Mengingat konsen Presiden Prabowo yang tak ingin melihat kondisi sekolah yang mengalami kerusakan.
"Penandatanganan MoU program revitalisasi satuan pendidikan sudah dilakukan di Jakarta, beberapa hari lalu," ucap Nur, saat ditemui Radar Jogja di Halaman Komplek Pemkab Kulon Progo, Selasa (10/6/2025).
Nur menyampaikan, program gagasan pemerintah pusat menyasar satuan pendidikan dini, dasar, dan menengah.
Tentunya, revitalisasi satuan pendidikan harus didasari dengan kebutuhan sekolah.
Paling penting, sekolah-sekolah yang mengalami kerusakan.
Secara nasional, program revitalisasi menelan anggaran Rp 16,9 triliun pada 2025.
Anggaran itu masuk dalam Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik.
Sasaran satuan pendidikan berjumlah 10 ribu satuan pendidikan.
Dalam hal ini, Kulon Progo juga tak luput dari kucuran dana pusat.
"Kulon Progo ada 10 sekolah yang mendapat revitalisasi," ucapnya.
Nur menyampaikan, 10 sekolah terdiri dari dua PAUD, dua SD, dan enam SMP.
Sekolah-sekolah diusulkan untuk menerima program revitalisasi.
Tentunya, sekolah telah menjalani verifikasi lapangan yang menyatakan kebutuhan sekolah.
Lantaran, sekolah yang menerima program revitalisasi lebih diprioritaskan bagi sekolah yang mengalami kerusakan sedang.
"Untuk jumlah anggrannya masih menunggu dari pusat," ungkapnya.
Pelaksanaan dan pencairan anggaran program dilakukan di tahun 2025.
Pencairan anggaran akan dilakukan selama dua kali.
Harapannya, sekolah-sekolah di Kulon Progo dapat menyelenggarakan pendidikan yang representatif.
Sementara itu, Plh Kepala SMPN 1 Temon Sarjiya membenarkan sekolahnya mendapatkan kucuran dana tersebut.
Program revitalisasi dirasa sangat bermanfaat bagi sekolahnya.
Lantaran, SMPN 1 Temon memiliki kondisi kerusakan, dan membutuhkan bangunan sarpras penunjang penyelenggaraan pendidikan.
"Ada pembangunan bangunan baru untuk pusat pendidikan inklusif," ungkapnya. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva