KULON PROGO - Insinerator atau tungku pembakar sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Banyuroto belum optimal. Hal ini karena pengoperasian insinerator terganjal biaya operasional yang tinggi.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kulon Progo Gusdi Hartono menyebut, saat ini operasional insinerator baru dilakukan seminggu sekali. Waktu beroperasinya pun hanya delapan jam. Mengingat posisi insinerator masih masuk masa uji coba.
"Belum beroperasi full, kendalanya karena budget," ucap Gusdi Minggu (20/4).
Dia merinci, penanganan sampah per ton membutuhkan anggaran Rp 1,3 juta. Sedangkan, rata-rata timbulan sampah di Bumi Binangun mencapai 30 ton per hari.
Hal ini sangat berbeda jauh dengan penanganan sampah metode controlled landfill. Penimbunan sampah yang selama ini digunakan TPA Banyuroto, hanya memakan sedikit anggaran. Yakni sekitar Rp 145 ribu per ton. Sedangkan standar harga controlled landfill dari pemerintah pusat Rp 400 ribu per ton.
"Arahan pusat, memang tidak ada perluasan dan penambahan landfill," ujarnya.
Kendati secara operasional landfill lebih murah, pihaknya berupaya mengoptimalisasi penggunaan insinerator. Lantaran, terdapat kebijakan baru mengenai larangan perluasan landfill dan targetnya pada 2030 mendatang.
Sementara itu, Kepala UPTD Persampahan dan Pertamanan DLH Kulon Progo Budi Purwanta menyampaikan, secara teknis insinerator mampu membakar sampah satu ton per jam. Hasil pembakaran berupa abu yang akan diletakkan di landfill. Tentunya, ukurannya jauh lebih kecil dibanding ukuran sebelumnya.
"Memang mahal pengoperasiannya," ucapnya.
Mahalnya biaya operasional karena terdapat komponen biaya bahan bakar pembakaran, listrik untuk alat, dan upah pekerja pemilah. Bahan bakar untuk membakar sampah di dalam tungku menggunakan solar non-subsidi. Sehingga, berpotensi membengkak mengikuti jumlah sampah yang akan dibakar.
Sedangkan listrik, digunakan untuk mengoperasikan conveyor, dryer pengering sampah, dan alat pengatur polusi udara. Sedangkan tenaga pemilah diperlukan, karena sampah yang masuk tidak terpilah dengan baik. Tenaga tersebut juga memerlukan upah yang tidak sedikit. "Kalau untuk menyerap seluruh sampah, per hari habis Rp 30 juta," ungkapnya. (gas/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita