RADAR JOGJA - Batik Geblek Renteng merupakan salah satu motif batik khas Kulon Progo yang sempat menjadi ikon daerah, kini resmi dihapus dari peredaran.
Bupati Kulon Progo Agung Setyawan mengatakan, keputusan ini datang langsung dari Sri Sultan Hamengku Buwono X, yang memerintahkan agar motif tersebut tidak lagi digunakan secara resmi.
Kebijakan ini menimbulkan berbagai reaksi, terutama di kalangan masyarakat dan pengrajin batik Kulon Progo.
Sejarah dan Filosofi Motif Batik Geblek Renteng
Motif Geblek Renteng pertama kali dikenalkan sekitar tahun 2012 melalui sebuah lomba desain batik yang digagas oleh Pemerintah Kabupaten Kulon Progo.
Motif ini menggambarkan bentuk makanan tradisional geblek yang dirangkai secara renteng (berjejer), melambangkan nilai kebersamaan, kekompakan, serta filosofi ketahanan masyarakat lokal.
Tak hanya itu, bentuknya yang menyerupai angka delapan dinilai merepresentasikan jumlah desa dan kelurahan di Kulon Progo, yakni 88.
Alasan Sri Sultan Hamengku Buwono X Beri Perintah untuk Hapus Batik Geblek Renteng
Namun belakangan, simbol angka delapan ini justru menjadi sorotan.
Dalam penilaian Sri Sultan HB X, motif tersebut terlalu kuat dikaitkan dengan masa kepemimpinan Bupati Kulon Progo saat itu, Hasto Wardoyo.
Simbol-simbol visual yang dianggap politis dinilai tidak sejalan dengan semangat budaya Yogyakarta yang mengedepankan nilai-nilai universal, netralitas, serta keberlanjutan lintas kepemimpinan.
Bahkan, beliau memberikan perintah langsung kepada Bupati Kulon Progo Agung Setyawan untuk mengganti motif batik tersebut.
“Saya dapat perintah langsung dari Ngarsa Dalem. Sebaiknya nandalem (Anda, Red) menggantinya,” ungkap Bupati Kulon Progo R Agung Setyawan, pada Minggu (13/4/2025).
Selain simbol angka delapan, motif Geblek Renteng juga tidak memuat unsur “gunungan” yang mana menjadi salah satu elemen penting dalam filosofi Jawa yang biasa hadir diberbagai motif batik tradisional.
Gunungan secara umum melambangkan awal kehidupan, ketertiban kosmos, dan keharmonisan alam semesta.
Ketidakhadiran unsur ini menambah alasan motif Geblek Renteng dinilai kurang merepresentasikan nilai-nilai budaya Jawa secara utuh.
Pengganti Motif Geblek Renteng
Sebagai pengganti, motif baru bernama Gunungan Pare Anom telah diperkenalkan.
Motif ini dinilai lebih filosofis, menampilkan lambang kepemimpinan dan kemakmuran, dan mengandung unsur “gunungan” yang menjadi ciri khas narasi budaya Mataram.
Gunungan Pare Anom disebut-sebut mencerminkan semangat kepemimpinan yang baru, segar, dan tetap berakar pada budaya luhur.
Meski keputusan ini menuai kekecewaan dari sebagian kalangan, terutama yang terlibat dalam proses penciptaan dan pengembangan motif Geblek Renteng.
Namun Sultan Hamengku Buwono X menegaskan bahwa langkah ini adalah bagian dari upaya merawat budaya yang inklusif dan bebas dari simbolisasi politik.
Perintah penghapusan motif Geblek Renteng telah disampaikan secara resmi dan mulai diberlakukan dalam seluruh kegiatan dan atribut resmi pemerintahan di Kulon Progo.
Pemerintah daerah kini tengah melakukan sosialisasi terkait penggantian motif ini agar transisi berlangsung secara bertahap dan tetap menghormati karya yang pernah menjadi kebanggaan masyarakat Kulon Progo. (Adinda Fatimatuzzahra)
Editor : Meitika Candra Lantiva