KULON PROGO - Badan usaha kredit pedesaan (BUKP) milik Pemprov DIY menjadi sorotan.
Lantaran, beberapa nasabah di Kulon Progo mengeluhkan tak bisa menarik tabungan dan deposito di dalam BUKP.
Salah satunya nasabah BUKP Wates Teguh Wibowo.
Teguh merupakan pedagang sembako di Pasar Bendungan yang mencoba menyimpan hasil dagangannya di BUKP Wates.
Dirinya telah menjadi nasabah sejak tahun 2023 lalu.
"Tahun sebelumnya tidak ada masalah, baru tahun ini saja mau ngambil uang malah tidak bisa," ucap Teguh, Rabu (9/4/2025).
Teguh menyampaikan, awal mula dirinya menjadi nasabah.
Di tahun 2023, dirinya mulai membuka deposito di BUKP Wates dengan nilai Rp 30 juta.
Menjelang lebaran 2024, Teguh mengambil keseluruhan deposito dan mendapatkan untung.
Melihat keuntungan yang didapat, Teguh memutuskan kembali membuka deposito setelah lebaran 2024.
Tak tanggung-tanggu, pihaknya mrnambah nilai investasi yang sebelumnya Rp 30 juta dan ditambah kembali dengan Rp 12 juta.
Pada Februari 2025, Teguh hendak mengambil uang deposito.
Lantaran, sejak akad deposiyo bisa diambil kapanpun, asalkan nasabah mau menanggung pinalti. Sayangnya, usaha tarik uang tunai deposito tak bisa dilakukan.
"Alasan dari BUKP, uang tunai tidak tersedia," ungkapnya.
Uang hasil deposito rencananya akan digunakan untuk menambah modal dagangan.
Pasalnya, menjelang lebaran pasar akan dikunjungi pembali. Sehingga, butuh modal besar untuk stok barang.
Sayangnya, usaha menagih hak deposito tak membuahkan hasil.
Bahkan hingga hampir dua bulan semenjak Teguh menagih, BUKP Wates tak segera mencairkan dana nasabah.
"Sudah ditagih puluhan kali melalui pesan singkat, kalau ke kantor sudah empat kali," ungkapnya.
Teguh menyampaikan, BUKP Wates justru melakukan pembayaran depositonya menggunakan metode cicilan.
Hingga kini dari Rp 42 juta yang di setorkan, baru Rp 8 juta yang diterima Teguh.
Usut punya usut, Teguh bukanlah satu-satunya nasabah yang tak bisa menarik dana.
Teguh menjelaskan, ada belasan pedagang Pasar Bendungan yang menabung atau deposit. Namun, tak bisa menarik uangnya kembali.
"Di luar pasar banyak juga, kalau seperti ini arep sambat karo sopo," ungkapnya.
Teguh menyayangkan kejadian itu.
Baca Juga: Ramai Varian Es Krim Alkohol di Surabaya: Satpol PP Bertindak, MUI Keluarkan Fatwa
Menurutnya, masyarakat sudah percaya dengan kredibilitas BUKP.
Lantaran, badan usaha ini dinaungi pemprov. Namun, kejadian ini sangat mengecewakan.
Pihaknya berharap agar pihak BUKP mau bertanggungjawab.
Mengkonfirmasi perihal ini, Radar Jogja mencoba mendatngi Kantpr BUKP Wates yang terletak di sebelah selatan Pasar Wates.
Saat didatangi hanya ada satu petugas yang menyambut, sedangkan kepala BUKP tak berada di kantor.
"Ini saja gaji saya belum dibayar mas," ucap salah satu pegawai yang melayani.
Kendati mengeluhkan hal itu, pegawai itu tak berkenan memberikan informasi detail perihal kondisi BUKP. Ia hanya mengatakan kepala BUKP tidak hadir hari ini. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva