KULON PROGO - Menjelang puncak arus balik, toko oleh-oleh banyak diserbu pemudik.
Hal yang sama juga terlihat di rumah produksi Bakpia dan Wingko Rahmat, di Padukuhan Terbah, Kalurahan Pengasih, Kapanewon Pengasih.
Kendati ramai, penjualan pada lebaran kali ini cenderung mengalami penurunan.
Pemilik tempat produksi Rahmat Sugianto menjelaskan, setiap lebaran rumah produksinya selalu dikunjungi pemudik.
Biasanya pemudik akan memadati rumah produksi sejak lebaran hari pertama.
"Lebih sepi dibanding tahun sebelumnya, ini baru kelihatan ramai setelah hari keempat," ucap Rahmat, Jumat (4/4/2025).
Rahmat menyampaikan, di tahun sebelumnya pemudik sudah banyak memesan oleh-oleh.
Jika dibandingkan tahun ini, pemudik baru mencari oleh-oleh setelah hari keempat. Sehingga, pohaknya memprediksi penurunan penjualan oleh-oleh hingga 50%.
Di lebatan tahun sebelumnya, pihaknya bisa menjual 20 ribu dus wingko dan bakpia per hari.
Namun, lebaran kali ini baru mampu menjual 15 ribu dus per hari.
"Efek ekonomi lesu, dan ada kemungkinan pergeseran hari arus balik," ucapnya.
Rahmat menjelaskan, penurunan penjualan disinyalir akibat dua faktor penyebab.
Panjangnya libur pasca lebaran menjadi salah satu faktornya.
Pasalnya, libur panjang membuat arus balik diperkirakan terjadi pada hari kelima lebaran.
Sehingga, kebanyakan pemudik baru membeli oleh-oleh mulai hari kelima lebaran.
Selain itu, ekonomi yang lesu juga menjadi faktor menurunnya daya beli masyarakat.
Terutama pemudik dari jabodetabek yang lebih memilih untuk menggunakan uang pada kebutuhan pokok.
Perekonomian lesu juga berdampak pada kenaikan bahan baku pembuatan oleh-oleh.
Sementara itu, salah satu pembeli oleh-oleh asal bekasi Azka Niam menjelaskan antusiasnya membeli bakpia dan wingko.
Setiap mudik, keluarganya selalu memastikan membawa oleh-oleh untuk teman kerja ataupun keluarga di perantauan.
"Ini untuk oleh-oleh, dibawa ke Bekasi rencananya besok, jadi mulai mencari hari ini," ungkapnya.
Azka menjelaskan, produk wingko dan bakpia selalu ditunggu orang perantauan.
Lantaran, menjadi produk otentik yang memiliki citarasa yang berbeda.
Sehingga, ketika pulang kampung keluargaanua selalu memastikan membeli wingko dan bakpia sebagai oleh-oleh. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva