KULON PROGO - Leptospirosis di Kulon Progo tercatat hingga sembilan kasus pada 2025. Dari kasus tersebut, dua orang dinyatakan meninggal dunia.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kulon Progo Arief Musthofa menjelaskan, dua kasus tersebut berasal dari Kapanewon Nanggulan dan Wates. Meninggalnya dua warga tersebut, akibat korban tak segera berobat. Padahal leptospirosis langsung menyerang organ vital manusia. Seperti ginjal dan pembuluh saraf paru-paru.
Kebanyakan kasus leptospirosis, lanjutnya, ditemukan di wilayah perkotan dan area yang berhubungan persawahan. Sejauh ini, terdapat lima kapanewon yang terjangkit. Yakni Nanggulan, Kalibawang, Girimulyo, Kokap, dan Wates.
"Terbanyak di Kapanewon Nanggulan dengan temuan tiga kasus, dan Girimulyo dua kasus," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kulon Progo Sri Budi Utami menyampaikan, leptospirosis disebabkan oleh air seni hewan yang terjangkit. Biasanya, leptospirosis menjangkiti hewan pengerat seperti tikus.
Persebaran leptospirosis dapat meningkat saat musim hujan. Lantaran, bakteri pemicu leptospirosis dapat terlarut dalam aliran air. Bakteri yang terbawa air dapat menginfeksi manusia yang memiliki luka terbuka. “Yang jelas karena kondisi lingkungan, paling banyak aktivitas sawah dan genangan banjir," ujarnya.
Pola persebaran ini membuat dinkes menyiapkan layanan kesehatan yang menjamin. Petugas medis baik di rumah sakit maupun puskesmas telah dilatih untuk melakukan penanganan pasien leptospirosis.
Baca Juga: Soal Pengangkatan CPNS dan PPPK, Pemkab Kebumen Ikuti Keputusan Pusat
Kendati telah menyiagakan sarpras dan sumber daya manusia, peran masyarakat dinilainya lebih penting. Lantaran, persebaran leptospirosis sebenarnya dapat dicegah. Seperti petani yang dapat menggunakan sepatu bot selama memasuki area sawah. Hal ini, bertujuan mencegah masuknya bakteri ke tubuh manusia. (gas/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita