Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Dampak dari Alih Fungsi Lahan, Target Cetak Sawah Baru di Kulon Progo Mengalami Penurunan

Anom Bagaskoro • Selasa, 25 Februari 2025 | 05:10 WIB

 

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kulon Progo Drajat Purbadi
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kulon Progo Drajat Purbadi
 

KULON PROGO - Banyaknya alih fungsi lahan pertanian menjadi pekarangan membuat pemerintah melaksanakan program cetak sawah. Namun di tahun ini, target cetak sawah mengalami penurunan.


Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertapa) Kulon Progo Drajat Purbadi menyampaikan, target cetak sawah pada 2025 mencapai 10 hektare. Lebih rendah dibanding 2024 dan 2023 yang mencapai 25 hektare per tahun.


"Penurunan terjadi karena minimnya lahan yang berpotensi," ucapnya.

 

Penurunan jumlah luasan ini diakibatkan minimnya lahan yang cocok untuk pertanian. Lantaran, untuk cetak sawah baru diperlukan infrastruktur penunjang. Di antaranya saluran irigasi, jalan, hingga kesesuain tanah.


Selain itu, cetak sawah mayoritas menggunakan lahan milik masyarakat. Tentunya, penggunaan aset pribadi harus didasari dengan izin. Sehingga, pihaknya harus berkonsultasi dan mendapat izin dari pemilik. 

Nantinya pemilik yang merelakan tanahnya akan dapat mengolah tanah dan mendapat subsidi mulai dari benih hingga pupuk. "Lahan cetak sawah sudah dikaji 2024, sudah muncul DED-nya," ucapnya.


Khusus tahun ini, lanjutnya, 10 hektare sawah akan dicetak di Kalurahan Banyuroto, Nanggulan. Penentuan lokasi telah didasari kajian yang matang dengan mengombinasikan potensi lahan, sumber air, hingga persetujuan masyarakat.


Hingga 2024, dispertapa telah melakukan program cetak sawah baru mencapai 300 hektare. Data tersebut dihitung sejak 2015. Kendati terus menghasilkan sawah baru, dispertapa mengakui cetak sawah belum mampu menambal alih fungsi lahan.

 

Sebab pada 2023, terdapat 74 hektare lahan pertanian yang tergusur proyek tol. Sehingga selama satu tahun terakhir, upaya cetak sawah belum mampu menutupi kekurangan. Karena hanya berjumlah 50 hektare. "Untuk ketahanan pangan sebenarnya ada opsi lain, yaitu optimalisasi panen," ucapnya.


Drajat menyampaikan, untuk menciptakan ketahanan pangan, cetak sawah bukanlah satu-satunya cara. Terdapat cara lain berupa optimalisasi jumlah panen. Di antaranya dengan meningkatkan kualitas bibit, telnologi pertanian, hingga subsidi pupuk. (gas/eno)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#proyek tol #cetak sawah #Pertanian #Dispertapa #Kulon Progo #pemerintah #alih fungsi lahan #infrastruktur #program #Dinas Pertanian dan Pangan #pekarangan