KULON PROGO - Pelaksanaan Nyadran Agung di Bumi Binangun tak seperti tahun-tahun sebelumnya. Lantaran pemkab melakukan pemangkasan anggaran hingga membuat seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) melakukan penghematan. Tak terkecuali dinas kebudayaan.
Kepala Dinas Kebudayaan Kulon Progo Eka Pranyata membenarkan kondisi itu. Pada nyadran tahun ini tak banyak kegiatan seperti tahun sebelumnya. Lantaran, munculnya Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2025 yang mendorong adanya efisiensi anggaran pemerintah daerah.
"Sesuai arahan pimpinan, nyadran digelar secara sederhana," ucap Eka, saat ditemui Radar Jogja usai nyadran di Rumah Dinas Bupati, Rabu (19/2).
Eka menyampaikan, nyadran tahun ini hanya digelar di rumah dinas bupati Kulon Progo. Acara berupa doa bersama dan pembagian nasi berkat sebagai wujud rasa syukur itu hanya diikuti OPD, panewu, dan lurah.
Kendati begitu, penyelenggaraan nyadaran digelar secara khidmat. Sebab, nyadran agung merupakan perwujudan atas doa dan harapan menjelang Ramadan.
"Tidak masalah dengan cara sederhana. Yang penting esensinya sama," ucapnya.
Eka menyampaikan, keberadaan nyadran berkaitan erat dengan kebudayaan masyarakat Jawa. Biasanya diwujudkan dengan doa bersama serta dhahar kembul. Seiring perkembangan zaman, kegiatannya menjadi bertambah seperti gunungan dan arak-arakan.
Baca Juga: Ingin Membeli AC untuk Kamar Bayi? Ketahui Dulu 7 Tips Penting Ini!
Pada tahun 2024, Nyadran Agung digelar secara meriah. Pemkab Kulon Progo bahkan membuka nyadran untuk dikunjungi dan diikuti masyarakat. Ada 20 gunungan yang berasal dari 12 kapanewon dan 8 gunungan dari pemkab.
Gunungan itu kemudian diarak keliling Kota Wates hingga berhenti di Alun-Alun Wates. Seusai didoakan gunungan dirayah masyarakat. (gas/zam)
Editor : Sevtia Eka Novarita