KULON PROGO - SMA Negeri 2 Wates sukses menggelar pertunjukkan yang menonjolkan aspek budaya.
Kegiatan yang bertajuk "Orangtua Cemerlang, Anak-Anak Gemilang, Bersama Menggapai Sukses" ini melibatkan kolaborasi siswa dan orang tua.
Acara yang digelar semarak ini berlangsung di Joglo SMA Negeri 2 Wates, Rabu (5/2/2025).
Kepala SMA Negeri 2 Wates Vipti Retna Nugraheni menyampaikan, terdapat dua kegiatan utama yang diselenggarakan pihak sekolah.
Pertama, kegiatan parenting yang diikuti orangtua atau wali siswa kelas 12 SMAN 2 Wates.
"Selanjutnya, kegiatan sinergi antara sekolah dan orangtua, untuk memotivasi siswa," ucap Vipti, Rabu (5/2/2025).
Vipti menyampaikan, kegiatan parenting sengaja mendatangkan motivator ternama di DIY, yaitu Motivator Shinta atau kerap dipanggil Bunda Cinta.
Parenting mencoba mengangkat isu dukungan orangtua dan sekolah untuk siswa.
Hal ini sejalan dengan visi Tri Pusat Pendidikan yang menciptakan pendidikan berkualitas dan inklusif melalui kolaborasi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Melalui kegiatan itu, orang tua diajak mendalami keinginan anak-anaknya.
Tujuannya, agar orang tua terbuka wawasannya terkait masa depan anak.
Mendukung dan memotivasi anak agar dapat menggapai impian serta cita-citanya.
Selain itu, tujuan parenting mengupayakan hak anak untuk memperoleh pendidikan yang berkelanjutan.
Diharapkan orang tua dapat memberikan pendidikan lanjut usai anaknya menyelesaikan pendidikan di SMA.
Tentunya, pendidikan yang dimaksud berupa bangku perkuliahan sesuai keinginan siswa.
"Ada juga unjuk karya siswa yang disaksikan orangtua, dan beberapa stakeholder yang hadir," ungkapnya.
Vipti menyampaikan, unjuk karya siswa menunjukkan SMAN 2 Wates, merupakan sekolah berwawasan budaya di DIJ. Dalam kegiatan ini, siswa menunjukkan hasil karya berupa pertunjukan yang digarap secara serius.
Setiap kelas menampilkan satu pertunjukan yang berupa perpaduan pertunjukan, drama, tarian, dan teater dengan menonjolkan aspek budaya.
Aspek budaya yang ditonjolkan bisa melalui cerita ataupun tarian sesuai dengan kretivitas siswa.
"Ada pesan yang disampaikan melalui cerita di pertunjukan," ujarnya.
Melalui ujuk karya, siswa dapat mendalami pesan tersirat yang ada dalam pertunjukan.
Harapannya siswa dapat mengimplementasikan pesan tersirat ke kehidupan sehari-hari.
Sekaligus menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya khas DIY.
Vipti mengapresiasi antusias anak didiknya dalam mengikuti unjuk karya.
Antusias siswa tak hanya tergambar saat pertunjukan.
Melainkan juga tergambar saat mempersiapkan pertunjukan.
Lantaran, siswa menggarap pertunjukan secara berkelompok dengan serius.
Menurutnya, dimensi pertunjukan juga dapat dilihat dari proses pembuatan unjuk karya.
Siswa yang menyiapkan pertunjukan, diajak hidup berkelompok dan bekerjasama.
Selain itu, siswa dapat membentuk karakter melalui proses yang dijalani.
Tentunya, hal ini dapat mematangkan siswa dan menyiapkan siswa pada kehidupan sosial yang nyata pasca lulus dari sekolah.
Sementara itu, salah satu siswa yang mengikuti pertunjukan Assyfa Mulantika menyampaikan antusiasnya.
Kelasnya membawakan cerita Lutung Kasarung dnegan sentuhan tarian gagrag DIY.
"Sangat antusias, karena memang sudah ditunggu-tunggu sejak kemarin," ujarnya.
Assyfa menyampaikan, kelasnya tak merasa terbebani.
Lantaran, persiapan justru menjadi momen kebersamaan antar teman skelas.
Sekaligus wadah menyatukan pendapat dan memberikan kreatifitas. (gas)