KULON PROGO - Bagi sebagian orang, tulang ikan bukanlah barang berharga. Bahkan seringkali dibuang dan menimbulkan sampah organik yang menumpuk di TPA.
Namun di tangan Sunartri, 39, warga Padukuhan Kepek, Giripurwo, Girimulyo, tulang ikan justru bisa menjadi produk olahan baru berupa aneka makanan.
Nama Sunartri menggema di Gedung Kaca, Kompleks Pemkab Kulon Progo pada Pekan Inovasi Daerah.
Ia membawa nama Poklahsar Mbok Daya mendapat juara tiga lewat inovasinya mengangkat tulang ikan menjadi tepung.
Momen itu yang membuat Radar Jogja tertarik dengan produk ciptaannya. Kedatangannya di kediaman Sunartri dan tempat produksi tepung tulang ikan, disambut suara mesin blender sederhana.
Mesin blender digunakan untuk menggiling tulang ikan hingga halus dan menjadi tepung.
"Digiling menggunakan blender sampai halus, terus disaring," ucap Nartri, sapaannya, saat ditemui di kediamannya, kemarin (2/2/2025).
Tangannya bergerak lincah menyaring tepung, sambil menceritakan awal ia membuat tepung tulang ikan.
Di tahun 2022 ia merintis usaha pengolahan ikan lele menjadi aneka snack, sperti keripik dan basreng. Lambat laun permintaan produk itu mengalami kenaikan.
Namun sebagai pembuat produk, Nartri menemukan masalah baru, yakni tidak terpakainya tulang dan kepala ikan lele.
Lantaran keripik ikan dan basreng hanya menggunakan daging ikan.
Gusar dengan hal itu, dia mencoba membuat inovasi pemanfaatan tulang dan kepala ikan. Berbagai macam cara terus dilakukan untuk mengolah barang sisa itu.
"2024 baru terlihat ada hasil mengolah tulang dan kepala menjadi tepung," ujarnya.
Upaya memanfaatkan limbah produksi akhirnya membuahkan hasil. Lantaran 2024 Nartri berhasil memproduksi tepung tulang ikan dengan memanfaatkan limbah sisa produksi.
Pembuatan tepung tulang ikan ini juga tergolong mudah. Untuk membuatnya, tulang ikan harus dipisahkan antara daging dan tulangnya, berlaku juga untuk kepala ikan.
Setelah dipisahkan tulang ikan, akan dioven untuk mengeringkan tekstur. Kemudian tulang ikan digiling hingga menjadi tepung berwarna putih agak kuning.
"Dengan tepung itu kami kembali berinovasi menurunkan produknya," ucapnya.
Ia menyampaikan, tepung tulang ikan tidak langsung dijual ke pasar. Namun, diolah kembali menjadi berbagai produk kudapan.
Di antaranya, basreng, keripik, kerupuk, hingga roti berbahan tepung tulang ikan.
Berkat inovasinya, tak hanya makanan berbahan daging ikan yang laku di pasaran. Kini makanan berbahan sisa produksi juga laku di pasaran.
Total ada 10 produk telah tercipta dan dipasarkan ke berbagai segmen. Kebanyakan konsumennya dari area DIY, terutama Bantul.
Untuk tepung tulang ikan juga diminati konsumen, karena dipercaya menambah kalsium bagi lansia. Bahkan tepung tulang dan aneka produknya, dipasarkan hingga keluar Jawa.
Kemampuan mengolah sisa produksi itu, tentunya sangat bermanfaat untuk usahanya.
Lantaran setiap kali produksi menghabiskan 45 kg ikan dan memberikan sisa tulang 5 kg. Adanya inovasi tepung tulang, tentu menambah pundi-pundi kuntungan.
Bahkan berkat inovasi itu, omzet sekali produksi mencapai Rp 20 juta. "Kami juga mendapat penghargaan dari berbagai stakeholder," ujarnya.
Selain mendapat cuan, Nartri juga mendapat apresiasi berupa penghargaan. Paling baru sebagai juara 3 pada pekan inovasi daerah. Selain itu, penghargaan juga didapat dalam isu pemberdayaan masyarakat. (gas/laz)