KULON PROGO - Libur panjang Isra Mikraj dan Imlek membuat sejumlah penginapan dan tempat wisata kebanjiran pengunjung. Tak tanggung-tanggung kenaikan okupansi dan kunjungan meningkat hingga 50 persen.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kulon Progo Sumantoyo menyampaikan, okupansi hotel di Kulon Progo mencapai 100 persen. Data tersebut tercatat sejak 25-28 Januari 2025 atau saat libur panjang. Tren positif ini akan terus berlanjut hingga 30 Januari mendatang.
"Hotel dan penginapan di Kulon Progo sudah penuh semua, kami sampai menolak-nolak pengunjung," ucap Sumantoyo, saat dihubungi Radar Jogja, Selasa (28/1).
Sumantoyo menyampaikan, hotel berbintang maupun penginapan yang terdaftar PHRI telah terpesan semua oleh pengunjung. Bahkan hotel berbintang sempat menolak dan memindahkan pesanan penginapan ke hotel serta penginapan lain. Kejadian tolak menolak tamu ini, dipercaya akibat libur panjang selama lima hari.
Dibanding tahun sebelumnya kenaikan cukup terasa. Lantaran, di tahun sebelumnya okupansi hotel hanya berkisar 80 persen hingga 90 persen. Kenaikan bisa terjadi disinyalir akibat penuhnya hotel di Kota Jogja dan Gunungkidul sebagai pusat pariwisata. Sehingga kebanyakan pengunjung lebih memilih mencari hotel di Kulon Progo. "Ini ada perubahan arah kunjungan, di tahun sebelumnya ke arah Solo sekarang ke Jogja," ucapnya.
Kenaikan okupansi tentu berhubungan dengan minat kunjungan wisata. Menurutnya, di tahun ini pengunjung lebih memilih menghabiskan waktu di DIJ. Lantaran, banyak objek wisata baru yang bermunculan selama akhir tahun 2024. Akan tetapi kebanyakan objek wisata yang dikunjungi masih berpusat di Kabupaten Gunungkidul. "Masih berpusat di Gunungkidul, wisata di Kulon Progo belum terlalu kuat," ucapnya.
Ketua Desa Wisata Widosari Heri Susanto juga membenarkan kondisi kenaikan jumlah angka kunjungan. Kenaikan ini berdampak langsung pada okupansi penginapan dan homestay di sekitar Kalurahan Ngargosari. "Penginapan dan homestay hampir penuh, karena banyak yang mengambil paket wisata," ujarnya.
Heri menyampaikan, kebanyakan kunjungan selama libur panjang berasal dari sekolah. Mereka sengaja memesan paket wisata live in, yang harus menginap di desa wisata. Sehingga, kebanyakan dari mereka memnuhi penginapan dan home stay milik warga.
Sedangkan untuk pengunjung sekali datang tercatat ada sekitar 300 pengunjung per harinya. Tujuan utama mereka menjelajahi Perbukitan Menoreh, diantaranya objek wisata Tumpeng Menoreh, Puncak Widosari, dan Desa Wisata Jatimulyo. (gas/pra)