Mulai dari yang bernafas budaya, harmoni alam, hingga unjuk potensi.
Bahkan keseruan rangkaian kegiatan ini, menarik Pj Bupati Kulon Progo dan Paniradya Pati untuk berkunjung.
Jagabaya Kalurahan Pagerharjo menyampaikan, rangkaian perayaan telah dilakukan sejak Jumat (24/1).
Kegiatannya berupa ritual budaya pengambilan air suci, dan pentas lengger tapeng.
Pengambilan air diwujudkan sebagai bentuk penghormatan terhadap alam.
"Pengambilan air di tiga tempat cikal bakal kalurahan kami," ucap Bambang Untoro, saat ditemui Radar Jogja, Minggu (26/1).
Bambang menyampaikan, pengambilan air merupakan salah satu tradisi wajib setiap hari jadi kalurahan.
Lantaran, beberapa sendang tempat pengambilan air telah ada sejak nenek moyang. Bahkan beberapa mata air memiliki bukti sejarah yang menunjukkan keberadaannya.
Salah satunya, Sendang Watu Gede yang diperkirakan ada sejak 300 tahun lalu.
Buktinya berupa tanaman pohon durian yang telah diteliti berumur ratusan tahun dengan diameter 3 meter.
Rangkaian kegiatan terus berlanjut di keesokan harinya dengan penampilan tarian lengger tapeng.
Di Bumi Binangun, seni tari ini hanya bisa ditemui di Pagerharjo.
Pasalnya, tarian lengger merupakan percampuran antara budaya Jogja dan Jawa Tengah.
Tak sampai situ, kegiatan berlanjut dengan gelar potensi daerah.
Sebelum kegiatan dilakukan, masyarakat melakukan kirab budaya dengan mengarak 4 gunungan hasil bumi.
Kemudian dilanjutkan unjuk potensi kalurahan.
"Selain budaya, kami ingin menampilkan potensi yang ada di kalurahan," ucapnya.
Bambang menyampaikan, momentum hari jadi digunakan untuk menunjukkan potensi kalurahan.
Lantaran, banyak masyarakat Bumi Binangun tak mengenal Pagerharjo.
Padahal masyarakat sebenarnya secara tidak sadar pernah mengunjungi Pagerharjo.
Pasalnya, Kalurahan Pagerharjo memiliki objek wisata kebun teh dan Puncak Nglinggo.
Selain itu, potensi kalurahan juga berasal dari hasil bumi.
Pagerharjo tekenal dengan pertanian kopi, vanili, cengkeh, dan teh.
Bahkan terkenalnya hasil bumi, membuat berbagai perusahaan mencari beberapa komoditas langsung ke wilayah ini.
"Sudah banyak dukungan terutama dari pemkab, dan Dais dari pemprov," ucapnya.
Kalurahan Pagerharjo menjadi salah satu kalurahan di Bumi Binangun yang mendapat dukungan Dais.
Dukungan ini mengarah pada pengembangan pertanian kopi dan vanili.
Terakhir kali di 2024, Dais mendukung pemberdayaan masyarakat dengan budidaya vanili di depan rumah.
Sementara itu, Pj Bupati Kulon Progo Srie Nurkyatsiwi menyampaikan apresiasinya terhadap perayaan hari jadi.
Perayaan dianggap sebagai pengenalan potensi desa yang dimiliki.
Terutama potensi pertanian kopi dan vanili di Pagerharjo.
"Potensinya luar biasa, terutama pertanian kopi," ucapnya.
Siwi menyampaikan, dalam kunjungannya ke Pagerharjo melihat banyak potensi yang dimiliki. Salah satunya peetanian kopi yang memperoleh dukungan Dais.
Potensi itu, diharapkan mampu dipoles oleh masyarakat dengan dukungan yang telah didapat.
Secara tematik, Pagerharjo perlu memoles menjadi kawasan perkebunan baik kopi ataupun komoditas lain.
Tentu pemetaan dan penyeragaman kawasan diperlukan. Dengan tujuan pengembangan bisnis yang optimal.
Sehingga, masyarakat diharapkan dapat ikut serta mensukseskan kawasan tematik. (gas)
Editor : Bahana.