KULON PROGO - Tren penyebaran penyakit mulut dan kuku (PMK) terus mengalami peningkatan, membuat harga sapi anjlok.
Tak tanggung-tanggung, penurunan harga tergolong drastis hingga menyentuh jutaan rupiah.
Akibatnya, banyak peternak mengeluhkan kondisi itu.
Salah satu peternak sapi di Kalurahan Bendungan, Miftahudin mengeluhkan harga sapi yang anjlok.
Dia menduga turunnya harga sapi akibat maraknya PMK akhir-akhir ini.
Memang kasus PMK tergolong kecil di Bumi Binangun. Namun dampaknya hampir dirasakan di seluruh daerah.
"Turun harganya, kemarin sempat menjual dari harga normal turun hingga Rp 3 juta," tuturnya.
Mifta menyampaikan, di hari biasanya harga sapi peranakan ongole (PO) bisa mencapai Rp 10 juta.
Namun, akibat PMK harga sapi turun hingga Rp 7 juta.
Sedangkan, harga sapi simetal atau limosin di angka Rp 15 juta, dan turun sebab PMK sekitar Rp 12 juta.
Kondisi ini dinilai mengkhawatirkan bagi peternak sepertinya.
Lantaran, peternak bisa merugi akibat fluktuasi harga yang terus menunjukkan tren penurunan.
Padahal peternak sudah berusaha merawat sapi mereka agar terhindar dari PMK.
"Kami berusaha agar sapi tidak terkena PMK, tapi tetap saja harganya menyesuaikan pasar yang rendah," ucapnya.
Mifta menuturkan, peternak sepertinya berusaha menghindari dampak PMK ke hewan ternak miliknya.
Tak hanya rutin melakukan disinfektan kandang, pihaknya juga rela melakukan vaksinasi.
Namun, saat akan dijual sekarang harga sapi justru jeblok.
Dengan harga yang turun drastis, peternak bahkan tak mendapatkan keuntungan.
Bahkan hasil penjualan dinilai tak mampu menutup biaya operasional.
Pasalnya, biaya operasional untuk membesarkan sapi hingga layak jual berkisar Rp 5 juta.
Hal yang sama juga dikatakan pedagang sapi di Girimulyo Sukirdi.
Selain harga sapi yang terus jatuh, minat pembelian pada hewan ternak ini juga mengalami penurunan.
Alasannya, banyak calon pembeli yang tak mau mengambil resiko membeli sapi, karena takut sapi terjangkit PMK.
"Sudah seminggu dagangan sapi tak ada yang membeli," ujarnya.
Sukirdi menyampaikan, sepinya pembeli membuat harga pasar sapi turun drastis. Terutama, sapi anakan yang hanya dihargai Rp 3 juta.
Merebaknya kasus PMK menjadi faktor utama sepinya pembeli dan berujung merosotnya harga.
Dia mengaku terpaksa menjual sapi dengan harga miring dari harga di hari normal. Akibatnya, Sukirdi menanggung rugi Rp 7 juta.
Sukirdi terpaksa menjual sapi, karena juga khawatir dengan kondisi harga. Jika tak segera dijual, harga sapi kemungkinan akan terus anjlok.
Sementara itu, data Dinas Pertanian dan Pangan Kulon Progo menunjukkan kasus PMK masih terkendali.
Saat ini, terpantau 17 kasus PMK yang masih dalam tahap ringan. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva