KULON PROGO - Kasus Penyebaran Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada hewan ternak ditemukan di Bumi Binangun.
Tepatnya di Kalurahan Plumbon, Kapanewon Temon, Kulon Progo.
Tiga ekor sapi terjangkit PMK.
Plt Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dispertapa Kulon Progo Eko Sulistyoadi mengatakan tiga sapi itu milik peternak.
Sapi yang terkena PMK, masih berada pada tahap sedang.
"Dengan indikasi hidung berair. Namun, bagian kaki dan kuku belum mengalami kerusakan," kata Eko di kantornya, Kamis (2/1/2024).
Kendati begitu, sapi yang terjangkit PMK, diisolasi untuk mendapatkan pengobatan dan vaksinasi.
Menurut Eko, ketiga sapi tersebut berada dalam satu kandang.
Nah, kondisi ini, membuat potensi penularan PMK sehingga bisa menyebar.
Dari pengamatan dokter hewan, salah satu sapi terlebih dahulu terjangkit PMK. Kemudian menularkan virus melalui droplet ataupun kotoran sapi.
Sehingga, sapi dalam kandang yang sama saling menginfeksi.
"Itu peternakan ukuran sedang, yang terkena hanya satu kandang saja jadi kami sarankan isolasi," ucapnya.
Saran isolasi diperlukan untuk mengantisipasi penyebaran virus.
Lantaran, PMK dapat menular ke hewan ternak dengan cepat.
Penularan PMK bisa melalui droplet, kulit bersinggungan,
kotoran hewan, hingga kebersihan kandang. Sehingga, pihaknya terus melakukan upaya pencegahan dengan rutin mensosialisasikan PMK dan vaksinasi.
Sebagai contohnya, vaksinasi di Kapanewon Girimulyo, Kamis (2/1/2024).
Bidang Kesehatan hewan Dispertapa melakukan distribusi vaksin sejumlah 200 buah ke 200 sapi di Kapanewon Girimulyo.
Vaksin tersebut berasal dari Kementerian Pertanian RI yang disalurkan pada awal tahun ini.
"Saat ini baru 200 vaksin, secara bertahap akan terus bertambah karena kami sudah mengajukan penambahan vaksin," ucapnya.
Instansinya juga melakukan monitoring lalu lintas persebaran hewan ternak di Kulon Progo.
Tujuannya, untuk mengantisipasi hewan ternak terjangki masuk ke Bumi Binangun. Lantaran berpotensi menyebarkan virus ke hewan ternak lokal.
Ditemui di tempat berbeda, Sukirdi peternak sapi mengaku khawatir dengan kondisi maraknya PMK.
Sebagai peternak lokal, dirinya khawatir dengan penyebaran PMK yang bisa menular dengan cepat. Terutama, penyebaran melalui transaksi jual beli di pasar hewan.
"Kalau bawa sapi ke pasar takutnya tertular, karena belum tau apakah sapi orang lain sehat atau sakit," ucapnya.
Sukirdi menjelaskan, ternaknya memang telah menerima vaksin.
Di tahun sebelumnya (2024), sapi miliknya mendapat dua kali vaksin.
Namun kekhawatiran akan PMK tetap ada. Lantaran, persebarannya tergolong masif. Sukirdi sendiri kebingungan untuk mengatasi agar sapi tidak tertular PMK. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva