KULON PROGO - Banjir kembali terjadi di Kulon Progo, Kamis (2/1/2025) dini hari.
Kali ini menggenangi pemukiman warga, sejumlah fasilitas umum dan jalan terpaksa ditutup akibat banjir.
Dari catatan BPBD, banjir terjadi di 18 titik. Banjir bersifat sementara sejak pukul 20.00 - 01.20 WIB.
Kepala Pelaksana BPBD Kulon Progo Taufiq Prihadi menyebut, banjir menerjang pemukiman perkotaan Wates, Kapanewon Pengasih, dan Kapanewon Lendah.
"Paling parah ada di Padukuhan Dukuh, Kalurahan Bumirejo (Kapanewon Lendah, Red), banjir setinggi 1 meter," ucap Taufiq, saat ditemui Radar Jogja usai mengunjungi pemukiman terdampak, Kamis (2/1/2025.
Taufiq menyampaikan, Padukuhan Dukuh, Kalurahan Bumirejo terdampak banjir. Lantaran, ketinggian air mencapai 1 meter.
Akibatnya, sebagian besar masyarakat terpaksa di evakuasi.
Terutama lansia yang akan kesulitan untuk berjalan di tengah genangan.
Personel BPBD melakukan evakuasi warga terdampak menuju ke tempat yang lebih tinggi.
Selain wilayah Lendah, banjir juga berdampak pada pemukiman di Kapanewon Wates dan Pengasih.
Wilayah pemukiman Gadingan, Cerme, Margosari, hingga Alun-Alun Wates tergenang.
Genangan di wilayah ini baru pertama kali terjadi, dan menimbulkan kepanikan masyarakat.
Fasilitas umum juga tak lepas dari dampak banjir.
Terdapat 3 fasum berupa underpass yang tenggelam akibat tak mampu menampung luapan air. Diantaranya, Underpass Milir, Polres, dan Kemiri.
Luapan mengakibatkan penutupan sementara pada akses jalan ini.
Akibatnya, masyarakat perlu memutar jauh untuk menghindari banjir.
Bahkan akibat luapan membuat dinding penahan tanah underpass Polres ambrol.
"Memang ada titik-titik banjir baru yang muncul," ucapnya
Taufiq menyampaikan, meluasnya area banjir di tahun ini disebabkan beberapa faktor.
Selain debit air yang tinggi akibat curah hujan tinggi, faktor normalisasi saluran dan sungai cukup berpengaruh.
Pada area pemukiman saluran drainase ditemukan banyak sumbatan.
Diperparah lagi tak adanya normalisasi sungai yang melintas di wilayah pemukiman.
Di antaranya Sungai Puton dan Serang yang debitnya cenderung naik akibat penumpukan sedimentasi.
Memang air sungai tak melimpah ke pemukiman. Namun, akibat debit air naik, saluran air yang lebih rendah akan dipenuhi air dari sungai. Membuat saluran air yang terhubung dari pemukiman membeludak.
"Perlu normalisasi, contohnya Sungai Puton pasti mrmbeludak ke area pemukiman," ucapnya.
Taufiq menyampaikan, pihaknya tengah berkordinasi dengan pemangku kepentingan seperti BBWSSO untuk wacana normalisasi.
Di sisi lain, pihaknya terus berupaya melakukan pemantauan dan penilaian dampak banjir yang terjadi.
Ditemui di lokasi berbeda, warga Kalurahan Margosari Danang Budiantoro mengaku pemukiman rumahny cukup banyak terdampak banjir.
Ketinggian banjir berkisar 50 cm mengakibatkan air masuk ke dalam.
"Di sini bukan langganan banjir, banjir terakhir 2017 lalu," ucapnya.
Danang menyampaikan, dirinya baru pertama kali merasakan banjir genangan yang hebat.
Lantaran, di tahun sebelumnya tak ada banjir yang bisa merambah ke dalam rumah. Tentunya, banjir membuat aktivitas masyarakat terganggu.
Masyarakat juga perlu mengevakuasi harta benda, terutama barang elektronik seperti kulkas.
Dirinya menduga banjir bisa terjadi akibat drainase pemukiman yang tak mampu menampung debit air.
Selain itu, Sungai Serang yang berada di dekat pemukimannya juga mengalami peningkatan debit cukup tinggi.
Membuat sistem drainase pemukiman justru dipenuhi air limpahan sungai. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva