KULON PROGO - Bagi sebagian besar orang, tanaman hias menjadi alternatif memperindang rumah.
Namun, berbeda dengan keluarga Fitriani yang tinggal di Padukuhan Serang, Kalurahan Sendangsari, Kapanewon Pengasih.
Ekstrem, bunga bangkai justru menghias di halaman samping rumahnya.
Fitriani menyampaikan, bunga bangkai dulunya sengaja ditanam oleh orangtuanya sekitar 10 tahun lalu.
Namun, setelah beberapa tahun berlalu bunga bangkai tak pernah tumbuh di tempat penanaman awal.
Hingga sekitar 3 tahun lalu, setelah orangtuanya meninggal dunia bunga muncul ke permukaan tanah.
"Dulu orangtua mengambil bibit berupa umbi dari sungai, kemudian ditanam disini," ucapnya.
Fitri sapaan akrabnya menyampaikan, sekira 2 tahun lalu bunga bangkai tumbuh. Pada awalnya, keluarga mengira bahwa tanaman yang tumbuh merupakan porang.
Lantaran, dari segi bentuk tanaman hampir sama. Setelah, beberapa bulan tumbuh muncul tunas baru yang berbeda. Tak ada daun dan hanya berupa kuncup.
Setelah ditunggu cukup lama, kuncup bunga semakin membesar dan saat itulah keluarganya sadar dengan keberadaan bunga bangkai.
Rentang waktu tunas hingga kuncup dan mekar berkisar 4 bulan.
Saat pertama kali muncul, terdapat 4 bunga bangkai yang mekar secara bersamaan di sekitar tahun 2022 lalu. Ukuran bunga juga lebih kecil sekitar 30 cm dari ukuran saat ini. Namun, di tahun 2023 lalu, bunga tidak menampakkan diri lagi. Fitriani sempat menyangka tanaman itu telah mati setelah mekar.
"Saya kira mati, ternyata tahun ini mekar lagi ada 4 buah, 1 sudah mekar kemarin, dan 3 baru akan mekar," ucapnya.
Di tahun ini, bunga bangkai mekar kembali tepat di samping rumahnya.
Berbeda dengan tahun sebelumnya, bunga memiliki ukuran lebih besar dengan diameter 60 cm.
Selain itu, bunga mekar dalam waktu 1 bulan secara bersamaan. Menurutnya, tak ada perawatan khusus untuk memekarkan bunga. Bahkan sekedar menyiram bunga Fitriani dan keluarga tak melakukannya.
Adanya bunga ini, tentunya menarik perhatian masyarakat sekitar.
Lantaran, bunga bangkai sekarang sulit ditemui karena sudah banyak di basmi. Keberadaanya juga tak bisa hidup disembarang tempat.
Faktor geografis, dan iklim sangat mempengaruhi pertumbuhan.
"Kalau masih kuncup sangat berbau, seperti bangkai," ucapnya.
Kendati menarik perhatian masyarakat untuk melihat, bunga bangkai sebelum mekar kerap sekali menjadi sumber bau di rumahnya.
Saat malam hari, bau akan lebih tercium karena bunga bangkai tak terpapar sinar matahari.
Bau menyengat seperti bangkai akan terjadi selama 4 hari saat bunga masih kuncup dan sedang dalam proses mekar.
Fitriani mengaku, tak akan pernah mencoba mematikan bunga ini.
Lantaran, tanaman merupakan kenang-kenangan dari orangtuanya.
Dulu orangtuanya sengaja menanam bunga ini untuk diambil umbinya dan dikonsumsi.
Namun, sekarang dirinya lebih memilih untuk merawat sebagai tanaman hias.
"Walaupun berbau tidak akan dimatikan, karenang kenangan dan sebagai kelangenan," ujarnya.
Selain itu, alasan lain mempertahankan bunga ini sebagai edukasi ke masyarakat, terutama anaknya.
Pasalnya, banyak anak-anak yang bermain disekitar bunga.
Melalui pengenalan bunga bangkai, diharapkan anak dapat lebih mencintai tanaman dan dunia botani. (gas)