KULON PROGO - Menjelang Hari Raya Natal dan Tahun Baru (Nataru), Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) DIY meninjau Pasar Wates, Rabu (4/12/2024).
Dari pemantauan, komoditas pangan berada di harga stabil menjelang Nataru.
Namun, minat masyarakat cenderung mengalami penurunan, walaupun harga masih terjangkau.
Kepala Biro Administrasi Perekonomian dan Sumber Daya Alam (SDA) Sekretariat Daerah (Setda) DIY Yuna Pancawati menyampaikan, pemantauan dilakukan untuk melihat kondisi pasar mengingat banyaknya pedagang yang mengeluhkan sepinya pembeli.
"Kondisinya hampir sama dengan Gunungkidul, harga-harga tidak mengalami kenaikan," ucap Yuna, saat menjawab pertanyaan awak media, Rabu (4/12/2024).
Yuna menyampaikan, kondisi pasar di Kulon Progo hampir mirip dengan Gunungkidul. Harga komoditas pangan relatif stabil di 3 minggu terakhir.
Sejumlah komoditas non pangan juga tak mengalami kenaikan menjelang Nataru. Komoditas beras IR 1 berada pada harga Rp 14 ribu, sedangkan beras IR 2 di harga Rp 13 ribu.
Komoditas minya juga berada diharga stabil, minyak curah Rp 15 ribu, dan kemasan Rp 19 ribu.
Harga komoditas cabai yang sempat naik turun juga mengalami kondisi stabil Rp 17 ribu untuk cabai keriting, cabai rawit merah Rp 20 ribu.
Selain itu, harga bawang merah yang menjafi langganan kenaikan harga cenderung stabil dengan harga Rp 35 ribu.
Kendati harga relatif stabil, tim pengendalian inflasi menemukan penjual komoditas pangan yang mengeluhkan sepinya pembeli.
Padahal dari pemantauan tim, daya beli masyarakat tak mengalami penurunan.
Ada kemungkinan minat masyarakat membeli bahan pokok yang justru mengalami penurunan.
"Daya beli masyarakat nanti akan naik saat Nataru, karena bertepatan libur panjang natal dan tahun baru," ujarnya.
TPID memprediksi adanya potensi kenaikan daya beli masyarakat saat Nataru.
Lantaran, saat hari Natal dan Tahun Baru masyarakat akan lebih banyak menggunakan uang mereka. Sehingga komoditas pangan nantinya akan banyak diminati.
Potensi naiknya daya beli dan minat masyarakat akan mengakibatkan kenaikan harga.
Kondisi ini bisa terjadi jika stok komoditas tak mampu memenuhi keinginan pasar.
Oleh karena itu, pada pemantauan hari ini, TPID melakukan peninjauan stok komoditas.
Diprediksi, stok komoditas pangan akan mampu mencukupi minat pasar selama nataru.
Sementara itu, salah satu pedagang ecer beras Anik membenarkan perihal sepinya peminat.
Anik yang membeli beras LM atau IR2 membeli dengan beras di Pasar Wates dengan harga Rp 12.500.
Kemudian ia menjual kembali secara ecer dengan harga Rp 13 ribu.
"Lumayan harganya, tidak turun-turun jadi memang sebagian masyarakat mencari beras yang lebih murah," ujarnya.
Alasan di balik sepinya penjualan, dinilai akibat minat masyarakat mengalami penurunan.
Memang harga kebutuhan pokok seminggu terakhir tidak mengalami kenaikan, atau relatif stabil.
Namun, harga mengalami kenaikan sejak Oktober, terutama komoditas beras. Sehingga, banyak konsumen mensiasati pola pembelian.
Sebagian besar membeli komoditas pangan dengan mengecer sesuai dengan kebutuhan. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva