KULON PROGO - Warga Kalurahan Kebonrejo, Temon, kulon Progo yang tergabung pada Paguyuban Terdampak Tol Jogja-YIA mendatangi Gedung DPRD Kulon Progo, Senin (4/11). Kedatangan mereka menanyakan perihal kepastian tol, setelah munculnya isu perubahan trase.
Ketua Paguyuban Warga Terdampak Pembangunan Tol Jogja-YIA Kebonrejo Faruq Zawawi menjelaskan, kedatangan mereka di gedung DPRD. Mereka mananyakan perihal kelanjutan proses ganti untung pengadaan bidang tanah tol yang tak kunjung dilakukan di kalurahannya. "Beredar isu ada perubahan trase tol, kami menjadi khawatir," ucap Faruq.
Faruq menjelaskan, kekhawatiran mereka dilandasi alasan finansial. Warga terdampak tol meyakini bidang tanah dan rumahnya akan terkena tol, karena telah mengikuti sosialisasi.
Sebelumnya, puluhan warga Kalurahan Kebonrejo telah mengikuti sosialisai pendataan tanah tol. Sebagian tanah juga telah dipatok dan diukur, kejadian itu tentunya semakin meyakinkan mereka.
Namun beberapa bulan lalu, santer dikabarkan trase tol berubah, membuat warga panik dan khawatir. Lantaran, sebagian besar warga terdampak telah menyiapkan perpindahan hunian, apabila tergusur proyek tol. Untuk menyiapkan perpindahan rumah, warga terpaksa meminjam uang ke bank maupun mengajukan KPR.
"Kalau saya sendiri cuma Rp 60 juta, tetapi warga yang datang hari ini ada yang sampai Rp 1 miliar," ujarnya.
Tak tanggung-tanggung, masyarakat terdampak telah berhutang ke bank hingga mencapai miliar rupiah. Sebagian masyarakat nekat membeli tanah maupun hunian bermodalkan dengan uang hutang. Bahkan beberapa warga cukup kewalahan membayar cicilan hutang saat ini, karena proses ganti untung tak kunjung terealisasi.
Nekatnya warga untuk berhutang bukan tanpa alasan. Wilayah Kapanewon Temon telah mengalami pembebasan tanah di 2018 lalu untuk pembuatan YIA. Belajar dari pembebasan tanah YIA, mereka ingin meminimalisir lonjakan tanah. Sehingga terpaksa mencari tanah sebelum penggantian untung.
"Sebagian warga trauma dengan kondisi pembebasan lahan, sehingga ingin segera berpindah," ujarnya.
Faruq menyampaikan, keberadaan Tol Jogja-YIA telah diterima masyarakat Kalurahan Kebonrejo. Belajar dari pengalaman YIA, warga lebih memilih mengalah dan merelakan tanahnya. Sehingga, kendati belum ganti untung warga sudah berpindah.
Sementara itu, Kepala BPN Kulon Progo Margaretha Elya Lim yang turut hadir dalam audiensi itu menjelaskan, pihaknya tak memiliki tupoksi dalam merubah trase tol. Isu perubahan trase tol juga belum disampaikan ke pihaknya.
Sehingga, masyarakat tak perlu khawatir dengan isu perubahan, karena belum tentu benar adanya. "Pekerjaan kami berpatokan pada penlok dan IPL, itupun bisa bertahan hingga tiga tahun," ujarnya.
Elya menyampaikan, sampai detik ini pihaknya berupaya mengikuti proses pengadaan tanah sesuai ketugasan BPN. Dalam proses pengadaan, pihaknya perlu berurut dari wilayah timur menuju barat Kulon Progo. Sehingga, masyarakat di wilayah Temon diharapkan bersabar menunggu proses pengadaan tanah. (gas/pra)
Editor : Heru Pratomo