Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Terdampak Gelombang Tinggi, Bangunan Penangkaran Penyu di Pantai Trisik Kulon Progo Rusak Parah

Anom Bagaskoro • Rabu, 23 Oktober 2024 | 23:30 WIB
ABRASI: Bangunan penangkaran penyu rusak terdampak abrasi.
ABRASI: Bangunan penangkaran penyu rusak terdampak abrasi.

KULON PROGO - Gelombang tinggi yang menerjang pesisir selatan Bumi Binangun mulai terlihat dampaknya.

Terlihat jelas di Pesisir Pantai Trisik, yang mengalami abrasi ekstrim hingga membuat bangunan penangkaran penyu ambruk.

Padahal fasilitas tersebut digunakan, sebagai bentuk pelestarian ekosistem penyu di perairan.

"Dibanding tahun lalu, memang abrasi kali ini cukup parah," ucap Lurah Banaran Haryanta, saat ditemui Radar Jogja, Rabu (23/10/2024).

Haryanta menjelaskan, gelombang tinggi berpengaruh terhadap tingkat abrasi di sepanjang pesisir wilayahanya.

Terutama di Pantai Trisik, abrasi bahkan membuat beberapa bangunan mengalami rusak parah.

Lantaran, pasir sebagai landasan pondasi justru tergerus, dan membuat bangunan tak menapak kembali.

Kerusakan mencolok dapat dilihat di bangunan konservasi penyu, yang terletak di kawasan Pantai Trisik.

Bangunan tersebut tergerus dibagian pondasinya, hingga bagian strukturnya tak menempel di posisi awal.

Bahkan kondisi bangunan penangkaran terancam hancur parah karena posisinya sudah mengarah ke bagian perairan.

Tak hanya bangunan penangkaran, fasilitas objek wisata Pantai Trisik juga mengalami kerusakan.

Pada area pedagang dan parkir kendaraan tergerus gelombang tinggi.

Kerusakan bangunan di area tersebut terlihat pada bagian atap, karena tiang bangunan kehilangan pijakan.

"Di bagian TPI juga mengalami abrasi," ucap Haryanta.

Haryanta menjelaskan, abrasi akibat gelombang tinggi juga berdampak pada Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Trisik.

Bangunan TPI terdampak abrasi hingga membuat ujung bagunan tergerus. Untungnya abrasi tak membuat bangunan rusak parah.

Menurutnya, dampak abrasi mempengaruhi jumlah kunjungan wisatawan di Pantai Trisik. Pihaknya belum memastikan penurunan jumlah kunjungan.

Baginya kondisi abrasi memiliki dampak positif maupun negatif.

Postifnya beberapa pengunjung sengaja berdatangan untuk melihat kondisi abrasi.

Sedangkan negatifnya berupa pengujung yang enggan berkunjung akibat merasakan ketidakamanan pantai.

"Kami sedang melakukan konsultasi, untuk tindak lanjut terkait kerusakan bangunan," tegasnya.

Haryanta menyampaikan, pihaknya masih berupaya dalam melakukan relokasi maupun renovasi penangkaran.

Pasalnya, bangunan saat ini dalam kondisi rusak dan butuh pembiayaan lebih. Bila dimungkinkan, pihaknya ingin mengajukan Dana Keistimewaan.

Akses Dana Keistimewaan dinilai lebih bisa mengakomodir renovasi penangkaran penyu. Lantaran, penangkaran memiliki berbagai fungsi sentral, terutama dalam konservasi dan sebagai wisata edukasi.

Baca Juga: Francesco Totti Isyaratkan Kembali Bermain Setelah 7 Tahun Pensiun

Sementara itu, aktivis Konservasi Penyu Trisik Dwi Setyawan membenarkan adanya kerusakan.

Gelombang tinggi selama sepuluh hari membuat abrasi di pesisir pantai. Abrasi berdampak juga pada radius 1 km dari muara sungai progo.

"Belasan pohon cemara udang roboh akibat gelombang tinggi," ujarnya.

Dwi menjelaskan, kerusakan akibat gelombang tinggi sangat berpengaruh terhadap aktivitas pelestarian penyu.

Pasalnya, bangunan penangkaran mengalami kerusakan hingga tak layak beroperasi.

Padahal sudah banyak penyu yang dilepasliarkan dari konservasi ini. Di tahun 2024 ini, tercatat penangkaran berhasil menetaskan 50 sarang. (gas)

Editor : Meitika Candra Lantiva
#pantai trisik #rusak #penyu #penangkaran #Kulon Progo #Parah #pesisir #gelombang tinggi #bangunan