Kehadiran ribuan orang ini, sejatinya untuk mengikuti Gladhen Hageng Jemparingan yang diikuti peserta dari berbagai daerah.
Kepala Dinas Pariwisata Kulon Progo Joko Mursito menyampaikan, gladhen ageng merupakan sebuah acara yang bertaraf nasional. Sehingga, peserta dari berbagai daerah dapat berpartisipasi. Tercatat ada 144 kontingen yang berasal dari paguyuban jemparingan se-Indonesia.
"Total ada 1.254 peserta, yang masuk dalam kategori anak, remaja, dan dewasa," ucap Joko Mursito, saat ditemui Radar Jogja, Minggu (20/10).
Joko menjelaskan, konsep gladhen ageng sama halnya seperti kompetisi panahan. Namun, perbedaan gladhen ageng menitikberatkan pada tradisi jemparingan atau panahan gagrag mataraman.
Berbeda dengan panahan konvensional, jemparingan memiliki keunikan dari posisi membidik, target sasaran, hingga alat perlengkapannya.
Jemparingan yang merupakan tradisi dan budaya tentunya perlu dilestarikan. Adanya gladhen hageng dapat dijadikan sarana dalam melestarikan budaya panahan gagrag mataram.
Ikutnya peserta dari kalangan anak-anak dan remaja, sekaligus mengenalkan budaya pada kaum muda.
"Dulu jemparingan merupakan kegiatan di dalam keraton, ketika sudah terbuka kami mulai mengenalkannya," ucapnya.
Joko menuturkan, jemparingan telah menjadi acara tahunan bagi Kulon Progo.
Lantaran, sejak tahun 2017 jemparingan selalu diadakan setiap tahunnya, dengan mengundang berbagai peserta dari luar daerah.
Bahkan kongres jemparingan Indonesia pertama kali dilakukan di Kulon Progo. Sehingga, keberadaan jemparingan akan terus digelar sebagi pertanggungjawaban atas kelestariam budaya dan tradisi.
Dari sudut pandang wisata, jemparingan bisa dijadikan sebagai atraksi wisata yang dapat dinikmati pengunjung. Pihak Dinpar tengah berusaha mengemas jemparingan menjadi atraksi wisata. Terutama pada penerpaan atraksi yang dikelola desa wisata.
Sementara itu, salah satu peserta jemparingan asal Tangerang Haris Yasin mengungkapkan antusiasnya.
Jauh-jauh dari Jabodetabek, dirinya membawa 8 peserta yang masuk dalam kontingen jemparingan Tangerang. Mereka juga membawa alat perlengkapan jemparingan sendiri yang sesuai dengan regulasi gagrag mataraman.
"Ini kali kedua kami mengikuti jemparingan di Kulon Progo," ucap Haris.
Haris menjelaskan, minat mereka mengikuti kegiatan ini dilatarbelakangi pelestarian adat dan tradisi.
Pasalnya, jemparingan hampir sama dengan olahraga panahan yang telah melekat di masyarakat Jawa Barat dan sekitarnya. Telah membudaya sejak zaman kerajaan, membuat panahan harus dilestarikan, khusunya panahan dengan mengangkat nilai-nilai lokal.
Dalam perhelatan gladhen jemparingan, dibuka dengan deviley dari berbagai kontingen peserta.
Deviley awal dipertunjukkan pemanah-pemanah asal keraton, yang membawa bergada serta panah.
Dilanjutkan dengan deviley masing-masing kontingen.
Gladhen ageng kemudian dibuka secara simbolis oleh Pj Bupati Kulon Progo dengan menembakkan anak panah ke target sasaran.
Menggunakan gagarag mataraman, dengan posisi duduk pj bupati termasuk paniradya pati membuka kegiatan dengan melakukan praktik jemparingan. (gas)
Editor : Bahana.