Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Demi Air Bersih, Masyarakat di Dua Kalurahan Kokap Rela Mengantre sejak Pagi

Anom Bagaskoro • Jumat, 27 September 2024 | 14:35 WIB

 

ANTRE: Membawa wadah air, warga Kalurahan Kalirejo mengantri mendapatkan air. 
ANTRE: Membawa wadah air, warga Kalurahan Kalirejo mengantri mendapatkan air. 

 

 

KULON PROGO - Kalurahan Kalirejo dan Hargomulyo di Kapanewon Kokap masih merasakan dampak kekeringan. Masyarakat yang kekurangan akses air bersih, rela mengantre saat mobil dropping air menyambangi dua wilayah kalurahan tersebut.

Seperti yang dilakukan masyarakat di Padukuhan Kadigunung, Kalurahan Hargomulyo, Kamis (26/9). Puluhan masyarakat yang didominasi ibu-ibu, membawa wadah air berupa jerigen mendatangi mobil tanki air Tagana Kulon Progo. Mereka rela mengantri sejak pagi untuk mendapatkan air bersih, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. "Ada 62 kepala keluarga di Padukuhan Kadigunung kesulitan air bersih," ucap warga Kadigunung Sarijo, Kamis (26/9).

Sarijo menyampaikan kemarau panjang di tahun ini, membuat beberapa sumber air milik warga mengalami kekeringan. Sumur sebagai sumber air utama warga mengering, membuat warga sekitar kebingungan mencari air bersih.

Baca Juga: Warga Minta Pembangunan Tol Jogja-Bawen Berhenti Sementara, Lantaran Makam Si Jambu di Margokaton Belum Direlokasi

Baca Juga: Eksperimen Seto Gagal Total, PSIM Jogja Dilibas Persipa Pati 

Parahnya jaringan program nasional penyediaan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat (Pamsimas) tak bisa diandalkan. Lantaran, sumber pamsimas juga mengalami kekeringan sejak tiga bulan terakhir. Membuat masyarakat hanya bisa mengandalkan akses air bersih dari bantuan pemerintah maupun swasta. "Tiap hari pasti ada kiriman dua tanki, sekitar 10 ribu liter dan pasti habis," ucapnya.

Sarijo menuturkan, kemarau panjang memiliki dampak banyak bagi masyarakat. Pasalnya, air tak hanya digunakan untuk konsumsi, melainkan untuk pemberian pakan ternak, kegiatan masak, cuci kakus (MCK), dan kebutuhan lainnya. Sehingga, mau tidak mau masyarakat harus mencari bantuan dari pemerintah maupun swasta untuk mendapatkan air.

Hal yang sama juga terjadi di Kalurahan Kalirejo Kapanewon Kokap. Terdapat lima padukuhan mengalami nasib yang sama, di antaranya Padukuhan Plampang 1, Plampang 2, Kalibuko, Sangon 1, dan Sangon 2. Lima daerah ini telah merasakan dampak kemarau sejak enam bulan terakhir."Kekeringan sudah enam bulan lalu, tiga bulan terakhir hampir semua tandon air sudah habis," ucap Warga Plampang 1 Kemijo.

Kemijo menjelaskan, di daerahnya terdapat 43 kepala keluarga yang terdampak kekeringan sejak enam bulan lalu. Sebelumnya, masyarakat di daerahnya sempat menampung air menggunakan tandon. Namun, tampungan hanya bisa bertahan selama tiga bulan. Setelah tiga bulan warga masyarakat mulai mencari alternatif sumber air.

Salah satunya, warga mulai mencari mata air yang berada di area hutan. Untuk mendapatkan air, masyarakat perlu berjalan sejauh satu kilometer menuju sumber mata air.

Baca Juga: Truk Molen Tabrak KA Taksaka di Bantul akibat Sopir Ceroboh,  PT KAI Alami Kerugian Rp 1,9 Miliar, Tuntut Truk  ke Ranah Hukum

Baca Juga: Mengaku Anggota Polisi, Dua Perampok Diringkus Polresta Sleman, Satu Pelaku Residivis Narkoba di Bantul

Baca Juga: Empat Fotografer Pamerkan 70 Foto, Rekam Tampilan Seni Budaya Komunitas Lima Gunung selama Dua Dekade

Namun, mata air juga mengalami kekeringan setelah beberapa kali warga mengambil dari tempat itu. "Masyarakat akhirnya bergantung bantuan dari pemerintah," ucapnya.

Kebutuhan air yang tak lepas dari keseharian, membuat masyarakat bergantung dengan bantuan air bersih. Selama tiga bulan terakhir, puluhan truk tanki telah mengakomodir kebutuhan mereka.

Seperti, beberapa hari lalu masyarakat Padukuhan Plampang 1 mendapatkan bantuan dari Dinas Sosial Kulon Progo. Mendengar kabar adanya bantuan, masyarakat rela sejak pagi berkumpul di titik penyaluran air. Bahkan beberapa warga, membawa beberapa wadah untuk menampung air lebih banyak.

Sementara itu, Kepala BPBD Kulon Progo Taufik Prihadi menjelaskan, dampak kemarau panjang memang masih terasa di beberapa daerah. Walaupun, di Kulon Progo sudah terjadi hujan beberapa kali kebutuhan air bersih masih belum terpenuhi."Intensitasnya masih rendah, jadi memang beberapa daerah masih perlu bantuan distribusi air," ujarnya.

Taufik menjelaskan, terdapat 23 kalurahan dari tujuh kapanewon yang merupakan wilayah terdampak kekeringan. Kapanewon Kokap menjadi salah satu daerah yang masuk dalam daftar tersebut. Sejumlah tanki dari BPBD telah diterjunkan untuk daerah yang telah mengajukan proposal penyaluran air bersih di Kapanewon Kokap. (gas)

Editor : Heru Pratomo
#Hargomulyo #mengantre #Dua Jam #Kulon Progo #kalurahan #antre #kokap #masyarakat #air bersih