KULON PROGO – Pemkab memutuskan untuk membangun Terminal Ekspor di Kapanewon Sentolo. Hal itu karena ironi sebelum di ekspor, produk dikumpulkan di kabupaten lain untuk dikemas dan kembali ke Kulon Progo saat akan dikirimkan melalui Yogyakarta International Airport (YIA).
Kepala Dinas Penanaman Modal, dan Perizinan Terpadu (DPMPT) Kulon Progo Heriyanto menuturkan, Terminal Ekspor merupakan tempat menampung produk UMKM yang memenuhi syarat untuk di ekspor. Munculnya ide pembuatan terminal, berawal saat melihat produk UMKM asli Kulon Progo yang banyak di ekspor tapi harus dikirim ke luar daerah sebelum ke YIA.
Melihat fenomena ini, DPMPT dan Disdagin mencoba mengkaji pembuatan terminal ekspor. Tujuannya menampung kebutuhan ekspor, serta menjadi wadah pengembangan UMKM untuk memperluas jangkauan pasar. "Tidak bekerjasama dengan investor, pengelolaannya oleh pemda," ujarnya, Senin (16/9).
Baca Juga: 84 Madrasah di Kabupaten Magelang Dapat Bantuan Rp 5 Juta untuk Perawatan Gedung
Progres realisasi saat ini telah mencapai tahap penyusunan Detail Engineering Design (DED). Perihal pembangunan dan pengelolaan akan dilakukan oleh pemkab, dengan pembiayaan melalui APBD. Sedangkan, untuk pengelolaan terminal ekspor akan ditangani kelembagaan UMKM yang akan segera dibentuk.
Dalam mendukung keberadaan terminal ekspor, DPMPT juga menggandeng calon mitra kerja dari perusahaan ekspedisi raksasa, PT. Samudera Indonesia. Perusahaan ini diharapkan dapat membantu penyiapan SDM ekspor, mencari buyer, serta memperkenalkan prosedur ekspor ke UMKM.
Sementara itu, Kepala Bidang Cipta Karya DPUPKP Kulon Progo Yuniar Wibowo menjelaskan, pihaknya diberi mandat dalam penyusunan DED. Sebenarnya, penyusunan DED telah dilakukan beberapa waktu lalu. Namun karena perlu penyesuaian anggaran, akhirnya dilakukan revisi. "Dari DED, pembangunan Terminal Ekspor berkisar Rp 10 miliar," singkatnya. (gas/pra)
Editor : Heru Pratomo