RADAR JOGJA - Data statistik sering dianggap remeh oleh masyarakat. Padahal peranannya cukup banyak berpengaruh pada kemajuan daerah. Untuk mengatasi fenomena ini, Badan Pusat Statistik Kabupaten Kulon Progo mencanangkan 4 kalurahan menjadi Desa Cantik (Cinta Statistik).
Kepala BPS Kulon Progo Sumarwiyanto menjelaskan, empat kalurahan tersebut adalah Karangsari dan Margosari, Pengasih; Glagah, Temon; serta Giripeni, Wates. Nantinya, setiap kalurahan memiliki 5 agen statistik.
Agen statistik, merupakan petugas pilihan yang berasal dari warga asli kalurahan. Sebelum menjalankan tugasnya, agen statistik akan mengikuti kegiatan pelatihan kompetensi. Seperti cara membaca data, memasukkan data, serta melakukan kuesioner.
Mereka, akan bertugas mendata seperti kepemilikan jamban, hingga penghasilan. Yang dapat dijadikan dasar penentuan arah pengembangan desa. “Misalnya mata pencaharian masyarakat pembatik, desa bisa mengarahkan ke pembuatan sentra industri batik," ucap Sumarwiyanto kemarin (21/8).
Sementara itu, Sekda Kulon Progo Triyono menuturkan, selama ini masyarakat cukup banyak meremehkan data statistik. Data dianggap sekadar laporan berupa angka, yang tak bisa dibaca. Sehingga, masyarakat enggan untuk mengulik lebih dalam mengenai manfaatnya.
Pada sektor pemerintahan terkecil seperti kalurahan, data statistik sebenarnya memberikan manfaat besar. Keberadaan agen statistik yang dikonsep dengan Desa Cantik, diharapkan mampu memberikan data aktual yang menggambarkan kondisi kalurahan. "Data yang diberikan sebagai dasar menentukan arah pembangunan desa dan daerah," ucapnya.
Bagi pemerintah kalurahan, data statistik dari desa dapat dijadikan dasar meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Lebih luas lagi, data juga dapat digunakan pemkab untuk membuat regulasi mengenai pengembangan daerah. Terutama di sektor pembangunan dan perekonomian.
Selama ini, sangat jarang ditemui pemanfaatan data statistik di kalurahan. Lantaran minimnya SDM dengan kompetensi pengolahan data. Sehingga, kalurahan sebagai pemerintahan terendah justru tidak bisa mengantongi data yang akurat.
Sementara Lurah Giripeni Iswanto Adi Saputro menjelaskan, selama ini pihaknya cukup kesulitan untuk mendapatkan data statistik mengenai desanya. Padahal data ini sangatlah penting bagi kalurahan. "Pamong terbatas, jadi untuk pendataan tak bisa optimal," ujarnya.
Adi menyampaikan, keberadaan agen statistik dan Desa Cantik menjadi angin segar untuk pendataan di desanya. Nantinya, selain fokus untuk mendapatkan predikat Desa Cantik, pihaknya juga melakukan pemanfaatan data.
Pemanfaatan data akan dilakukan pada sektor pembangunan dan melihat potensi desa. Kalurahan Giripeni yang berada di wilayah perkotaan Wates, perlu dicari potensi kalurahannya. Tentunya dengan orientasi meningkatkan kesejahteraan masyarakat. (gas/eno)