KULON PROGO - Dampak kemarau mulai dirasakan warga Padukuhan Tangkisan 2, Kalurahan Hargomulyo, Kapanewon Kokap, Kulon Progo.
Sumur buatan milik warga kering, mereka kekurangan akses air bersih.
Untuk mendapatkan air, mereka rela menggali dasar Sungai Tangkisan untuk dijadikan sumur.
Fenomena seperti ini dilakukan warga, sejak beberapa tahun belakangan jika memasuki musim kemarau.
"Di sepanjang sungai ini ada 5 titik yang kami buat sumur," ucap Sakijo warga Tangkisan 2, Senin (19/8/2024).
Sakijo menyampaikan, daerahnya selalu menjadi langganan kekeringan.
Padahal kesedian air untuk konsumsi, kebutuhan sehari-hari, dan MCK bergantung pada air sumur.
Beberapa tahun lalu, untuk mencukupi kebutuhan air, warga mulai menggali dasar sungai yang kering.
Warga menilai dasar sungai masih menyimpan cadangan air, karena dilewati air selama musim penghujan.
Terlebih terdapat pohon gayam disekitar sungai sebagai penanda terdapat air di dalam tanah.
Alhasil, setelah menggali cukup dalam sekitar 3 meter warga menemukan air.
Penemuan air ini, tentunya menjadi hal aneh, karena sumur mereka sama sekali kering tak ada air.
Sehingga, sejak saat itu warga kemudian mulai menggali sumur di area sungai untuk mendapat air bersih.
"Ya ini satu-satunya sumber air bagi kami," ujarnya.
Selama musim kemarau melanda wilayah mereka, warga menggunakan air sumur sungai.
Sedangkan setiap musim penghujan lubang yang telah dibuat dibiarkan terbuka sebagai biopori dan menampung air hujan.
Sehingga bisa dijadikan cadangan pada saat kemarau.
Sakijo menuturkan, musim kemarau di tahun ini dipresdiksi akan berlangsung panjang.
Sehingga, terdapat kemungkinan sumur yang mereka gali akan habis sebelum musim penghujan tiba.
Lantaran, sumur yang mereka gali dimanfaatkan oleh masyarakat lain yang memiliki nasib sama dengan mereka.
"Kalau habis airnya, kami menggali lagi ditempat dengan potensi airnya banyak," ucapnya.
Sebenarnya, Padukuhan Tangkisan 2 telah masuk wilayah yang terhubung dengan jaringan air PDAM.
Namun, sebagian besar masyarakat masih enggan untuk menyambung dengan jariangan PDAM.
Terlebih jaringan ini hanya terbatas di area dengan ketinggian tertentu.
Warga yang tinggal di area perbukitan sama sekali tak mendapat akses untuk menyambungkan.
Fenomena masyarakat yang enggan langganan air dibenarkan oleh Pelaksana Tugas Harian (Pth) Lurah Hargomulyo Anton Yulianto.
Anton menyampaikan, jaringan PDAM sudah tembus di daerahnya, namun masyarakat memilih tetap menggunakan sumur.
"Masyarakat lebih memilih menggunakan sumur, karena biaya langganan dan pemasangan belum bisa dijangkau," ucap Anton.
Melihat kondisi ini, Anton berharap agar ada tindak lanjut berupa pemberian sumur bor dalam.
Hal ini, dinilai lebih efektif jika melihat kondisi ekonomi masyarakat sekitar. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva