RADAR JOGJA- Keberadaan digitalisasi sistem lelang cabai di Kulon Progo berdampak pada petani. Lantaran mereka diuntungkan dari segi harga, namun juga jangkauan pasar.
"Selisih harga jual bisa sampai Rp 5 ribu, dibanding dengan cara konvensional Rp 2 ribu," ucap Ketua Pasar Lelang Kelompok Tani Sari Karangsewu Anwar Sidiq kemarin (11/8).
Anwar menjelaskan, sebenarnya pasar lelang cabai milik kelompoknya telah berdiri sejak 2000 silam. Namun, sebelum adanya sistem digitalisasi lelang, pihaknya tak banyak mendapat keuntungan. Sebab pelelang merupakan tengkulak dengan jangkauan pasar yang terbatas. Sehingga, harga yang ditawarkan tak bersaing dengan harga di daerah luar.
Perubahan mulai terjadi sejak Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kulon Progo memperkenalkan digitalisasi lelang cabai. Program ini membuka peluang besar bagi tengkulak dari luar daerah untuk membeli cabai langsung dari petani, dengan harga murah tetapi menguntungkan petani. "Ada aplikasinya, jadi nanti pembeli bisa menawar harganya," ucap Anwar.
Pria yang berprofesi sebagai petani pesisir ini menyampaikan, aplikasi lelang cabai menawarkan beberapa komoditas cabai. Seperti cabai rawit, hijau, keriting, hingga cabai setan. Komoditas ini didominasi dari petani asal Kulon Progo. Namun ada juga dari petani Bantul.
Setiap harinya hasil panen dari 40 anggota kelompok pasar lelang ini mencapai satu ton. Didominasi dengan cabai keriting. Sedangkan saat musim panen besar, kelompok ini dapat menjual sekitar 3-4 ton per hari.
Mekanisme lelang cabai dilakukan dengan beberapa tahapan. Pertama, cabai yang terkumpul dari petani, terlebih dahulu ditimbang. Setelah itu hasil timbangan dimasukkan ke dalam aplikasi. Saat muncul berat, nantinya pembeli bisa membeli dengan penawaran di atas harga yang telah ditentukan.
Setelah sesuai dengan harga, maka pembeli segera mengirimkan uang pembayaran, dan mengirimkan jasa ekspedisi untuk pengangkutan. "Biasanya Jabodetabek, tetapi setelah ada digitalisasi bisa sampai Palembang," rincinya.
Sementara itu, Kepala Bidang Sarana dan Pengembangan Usaha Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan DPP Kulon Progo Wazan Muzakir mengungkapkan, keberadaan digitalisasi merupakan wujud komitmen pemkab dalam menciptakan iklim perekonomian di sektor pertanian. Sebelum adanya digitalisasi banyak petani terpaksa merugi. Lantaran, tengkulak memberikan harga tak sesuai. (gas/eno)
Editor : Satria Pradika