RADAR JOGJA - Memperingati 79 tahun Indonesia merdeka, Jembatan Sesek di Padukuhan Temben, Kalurahan Ngentakrejo, mempersolek diri dengan menambahkan berbagai atribut. Penambahan atribut untuk memperkental suasana kemerdekaan dilakukan dengan cara swadaya masyarakat.
Kordinator pengelolaan Jembatan Sesek Sumarno menuturkan, terdapat ratusan bendera yang terpasang di area jembatan dan sekelilingnya. Untuk area jembatan lebih ditonjolkan menggunakan bendera yang terpasang pada tiang pagar pengaman. Sedangkan di area sekitar dipasangi umbul-umbul merah putih.
"Ini swadaya menggunakan uang yang dikumpulkan, sekitar Rp 500 ribu," ucap Sumarno saat ditemui Radar Jogja di Jembatan Sesek, Senin (5/8).
Ia menuturkan, agenda menghias jembatan swadaya ini telah dilaksanakan sejak Jembatan Sesek kali pertama dibuka sekitar 20 tahun lalu. Setiap tahun masyarakat pengelola jembatan bergotong royong menambahkan bendera, umbul-umbul, serta pernik-pernik untuk memeriahkan hari kemerdekaan.
Bahkan di tahun sebelumnya lebih meriah. Lantaran dipasangi lampu warna-warni, simbol padukuhan, serta bendera plasik yang melintang di Sungai Progo. Di tahun ini, pernik-pernik kemerdekaan terpasang sederhana dengan mengombinasikan bendera yang melintas sejalan dengan jembatan.
Dari kejauhan terlihat berjajar bendera Merah Putih menghubungkan antara Kabupaten Kulon Progo dan Bantul. Keunikan tempat ini dalam menyambut kemerdekaan bahkan menarik jumlah kunjungan, untuk sekedar melihat, mengambil gambar maupun melewati jembatan. "Banyak yang sengaja jauh-jauh ke sini untuk berkunjung. Ada yang motret juga," ucapnya.
Anggota BPKal Ngentakrejo ini menyampaikan, setiap bulan Agustus banyak pengunjung yang berdatangan. Terutama penggemar fotografi yang mengabadikan momen. Lantaran saat momen matahari terbenam dan terbit, pemandangan langit dengan kombinasi bendera di tengah sungai menjadi perpaduan apik. Sehingga sangat disayangkan momen ini terlewat.
Sumarno menuturkan, tak hanya pernik-pernik yang berasal dari swadaya masyarakat, namun juga jembatannya. Jembatan Sesek merupakan jembatan penghubung antardua kabupaten.
Jembatan ini merupakan jembatan musiman. Lantaran hanya bisa ditemui saat musim kemarau saja. Saat musim penghujan, jembatan akan tenggelam oleh aliran sungai. "Kurang lebih ada 500 kendaraan yang melewati jembatan ini," ujarnya.
Kendati jembatan bersifat sementara, banyak masyarakat yang memanfaatkan. Lantaran keberadaan jembatan ini dinilai lebih efisien dibanding harus memutar sejauh 6 km melalui Bendungan Kamijoro. Pengguna jalan lebih memilih mengeluarkan uang Rp 3 ribu untuk pulang pergi melewati jembatan ini. (gas/laz)