Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Keberhasilan KDK Santika di Kulon Progo Berdayakan Kaum Difabel dengan Produksi Keripik Benguk Bernama Mucuna Chips

Anom Bagaskoro • Selasa, 30 Juli 2024 | 19:39 WIB
Wakil Ketua KDK Santika, Winarno menunjukkan produk mucuna chips di Kalurahan Kaliagung, Sentolo, Kulon Progo, Selasa (30/7/2024)
Wakil Ketua KDK Santika, Winarno menunjukkan produk mucuna chips di Kalurahan Kaliagung, Sentolo, Kulon Progo, Selasa (30/7/2024)

KULON PROGO - Kelompok Difabel Kalurahan (KDK) Santika, semakin berdaya dengan produk buatannya.

Keripik benguk bernama Mucuna Chips membawa berkah tersendiri bagi perkumpulan sekelompok difabel di Kulon Progo.

Begini kisahnya!

Sekelompok orang dengan keterbatasan fisik berkumpul untuk mengembangkan bisnis.

Salah satu pionirnya yakni Winarno. Dia sebagai Wakil Ketua KDK Santika Kalurahan Kaliagung.

Dengan lugas dia menceritakan perjalanan kelompoknya.

"Kelompok ini berdiri di tahun 2019 lalu, dengan tujuan memberikan lapangan pekerjaan bagi kaum difabel," jelas Winarno, saat ditemui Radar Jogja, Selasa (30/7/2024).

KDK Santika awal mula berdiri di Kalurahan Kaliagung, Kapanewon Sentolo, Kulon Progo.

Latar belakang berdirinya kelompok ini dikarenakan terdapat ratusan kaum difabel yang membutuhkan wadah.

"Berawal dari perkumpulan rutin, terus ada yang mengusulkan untuk membuat produk," lanjut Winarno warga Tegowanu ini.

Winarno menuturkan, keberadaan kelompok ini sebenarnya sudah ada sejak 2018.

Namun, saat itu gagasan untuk pemberdayaan kelompok difabel belum nyata.

Munculnya gagasan, berawal saat salah satu warga yang memiliki latar belakang guru SLB mengusulkan pembuatan produk keripik benguk.

Gagasan kemudian ditindaklanjuti dengan mengajukan kegiatan pemberdayaan melalui Kalurahan Kaliagung.

Saat itu, kelompok yang berisi 50 orang melakukan uji coba pembuatan produk.

Proses pembuatan keripik benguk di rumah produksi Mucuna Chips.
Proses pembuatan keripik benguk di rumah produksi Mucuna Chips.

Namun hasil produknya tak seoptimal untuk diperjualbelikan. Banyak kendala yang dihadapi. Salah satunya dalam pengolaahan benguk menjadi tempe.

Serta pengelolaan dari tempe menuju keripik tak dapat diterima pasar karena kualitasnya yang tak konsisten.

"Butuh waktu setahun untuk uji coba, selama proses itu kami tak mendapat keuntungan bahkan rugi," jelasnya.

Kelompoknya bisa bertahan walaupun tak mendapat keuntungan, karena dukungan dari kalurahan, serta keuletan setiap anggota untuk mempertahankan produksi.

Namun berkat keuletan serta kesabaran kelompok ini, akhirnya berbuah manis.

Setelah satu tahun menjalani uji coba, produksi mulai berjalan normal dan menghasilkan keuntungan.

Dalam pembuatan keripik membutuhkan waktu panjang dan sangat membutuhkan keuletan.

Lantaran sebelum menjadi keripik, kaum difabel harus membuat tempe dari biji benguk kering.

Mereka harus merebus biji benguk menjadi cukup empuk dan tak beracun.

Setelah itu, benguk dicampur ragi untuk proses penjamuran tempe.

Jika sudah menjadi tempe, dilanjut dengan pencacahan dan penggorengan keripik.

Kemudian dilanjutkan ke penirisan dan pengemasan untuk dipasarkan.

Selama proses produksi, kaum difabel perlu pengawasan ekstra.

Lantaran, beberapa difabel yang memiliki kekurangan mental perlu pengarahan.

Tujuannya agar setiap proses produksi sesuai dengan SOP, dan tak membahayakan kaum difabel.

"Sekarang sudah banyak dikenal, dengan nama Mucuna Chips," tuturnya.

Kini keripik benguk yang diproduksi KDK Santika memiliki banyak penggemar.

Bahkan produknya dipasarkan ke seluruh Indonesia, terakhir kali produk ini dipasarkan ke mancanegara yaitu Hongkong.

Tingginya minat keripik benguk, terjadi karena citarasa keripik yang gurih dengan berbagai kemasan yang menarik.

Keunikan keripik ini juga berasal dari komoditas benguk.

Lantaran, benguk merupakan kedelai yang beracun apabila tak diolah dengan benar.

Sehingga kebanyakan pembeli merasa penasaran dengan cita rasanya.

"Sekarang setiap harinya bisa mengolah 4 kg biji benguk, dengan hasil produk 7 kg keripik," tutur Winarno.

Kelompok ini, tuturnya, sekarang mulai berkembang dan menaungi 151 anggota kaum difabel.

Sedangkan untuk operasional produksi dikelola oleh 8 orang difabel.

Difabel yang dinaungi berupa difabel cacat fisik, mental, ataupun wicara.

Dengan keberadaan kelompok ini, tentunya cukup banyak membantu perkonomian kaum difabel.

Setiap bulannya, kaum difabel yang bekerja mendapatkan penghasilan sekitar Rp 1 juta.

Terlebih perjuangan kelompok ini juga mendapat apresiasi dari pemerintah.

Beberapa OPD bahkan memberikan bantuan pada rumah produksi, dan kelompok ini juga mendapat gelontoran dan keistimewaan. (gas)

Editor : Meitika Candra Lantiva
#kendala #produk #KDK Santika #Kelompok Difabel Kalurahan #perjalanan #bisnis #sekelompok difabel #berdaya #mucuna chips #sentolo #Keripik benguk #keberhasilan #KDK Santika di Kulon Progo #berkah