Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kolaborasi TNI dan Koperasi di Kulon Progo untuk Garap Lahan, Wujudkan Ketahanan Pangan Daerah

Anom Bagaskoro • Senin, 29 Juli 2024 | 16:10 WIB
TURUN LAPANGAN: Dandim 0731 Kulon Progo Letkol Arh Viki Herwandi saat melakukan penanaman pertama bawang merah kemarin (28/7).
TURUN LAPANGAN: Dandim 0731 Kulon Progo Letkol Arh Viki Herwandi saat melakukan penanaman pertama bawang merah kemarin (28/7).

RADAR JOGJA - Upaya dalam mewujudkan ketahanan pangan, terus dilakukan TNI. Salah satunya kegiatan penanaman bawang merah yang berada di atas tanah kas desa Banyuroto, Nanggulan, Kulon Progo. Demi terwujudnya ketahanan pangan, Kodim 0731, Koperasi Wanadelima, dan masyarakat menggarap lahan untuk ditanami bawang merah.

Hal ini disampaikan Dandim 0731 Kulon Progo Letkol Arh Viki Herwandi, saat melakukan penanaman pertama bawang merah kemarin (28/7). Terdapat 10 hektare (ha) lahan tanam yang akan ditanami, dengan dukungan dari Kodim 0731 pada sektor sumber daya manusia pengelolaan tanah, dan penyediaan teknologi pertanian.

Sedangkan Koperasi Wanadelima menyediakan lahan yang disewa dari Kalurahan Banyuroto. Masyarakat juga ikut andil, dengan menjadi pekerja, dan ahli perawatan tanaman. "Sesuai program TNI AD mewujudkan ketahanan pangan, dan mengoptimalkan lahan pertanian yang ada," ucap Viki.

Viki menuturkan, lahan yang ditanami merupakan lahan bekas tanaman tebu yang ditinggalkan. Tanah yang ditanami tebu cenderung tak mudah pengolahannya. Sehingga banyak pihak tak mau menyewa.

Melihat kondisi itu, Kodim 0731 dan Koperasi Wanadelima mengupayakan untuk pengolahan tanah menjadi lahan produktif kembali.

Sementara Pimpinan Umum Koperasi Wanadelima Joko Yriyono menyebut, tanaman tebu cenderung mengambil banyak unsur hara pada tanah. Sehingga saat akan ditanami komoditas lain, lahan perlu perawatan khusus. Seperti, pembalikan tanah, penyebaran pupuk organik, hingga penggunaan teknologi pertanian.

Joko menyampaikan, nilai ekonomis lahan yang digunakan untuk tanaman bawang lebih menghasilkan dibanding tebu. Selain, karena memberikan efek pada tanah, tanaman tebu tak memiliki pasar luas. Hasil panen tebu biasanya hanya masuk ke dalam pabrik. Sedangkan, dari hasil panen bawang merah lebih banyak memiliki pasar, serta nilai ekonomis yang tinggi.

Pernyataan Joko ini bahkan telah diuji oleh pengalaman Koperasi Wanadelima yang juga tengah menggarap lahan di Kalurahan Sidomulyo. Hasil panen bawang merah di bekas lahan tebu, bisa optimal dan memiliki keuntungan ekonomis yang tinggi. Setiap satu hektare lahan, akan menghasilkan 20 ton bawang merah. Dengan rata-rata jumlah umbi dalam 1 rumput berkisar 21 umbi. "Kerja sama akan terus dilakukan, dari sejak persiapan lahan hingga besok pascapanen," ucap Joko.

Joko menuturkan, kerja sama antar berbagai pihak merupakan wujud sinergitas antara stakeholder, demi tercapainya ketahan pangan. Menurutnya, dengan lahan yang ditanami bawang merah dapat menciptakan ketahanan pangan, setidaknya di tingkat daerah. Terlebih masyarakat juga mendapatkan peluang tambahan penghasilan. (gas/eno)

 

Editor : Satria Pradika
#tanah kas desa #bawang merah #ketahanan pangan