RADAR JOGJA - Jamasan pusaka merupakan ritual kebudayaan yang terus dilestarikan oleh Dinas Kebudayaan Kulon Progo. Berbeda dengan tahun sebelumnya, jamasan kali ini dilakukaan secara serentak dengan melakukan pembersihan pada 14 tosan aji milik pemkab serta kapanewon.
Kegiatan jamasan dilakukan di depan Rumah Dinas Bupati, melibatkan tim khusus yang menangani pusaka peninggalan leluhur. Serta melibatkan masyarakat sekitar untuk menyaksikan kegiatan budaya ini. "Sebenarnya rutin dilakukan, tetapi di tahun ini dilakukan secara serentak," ucap Kepala Dinas Kebudayaan Eka Pranyoto, saat ditemui Radar Jogja, Kamis (25/7).
Eka menyebutkan, terdapat 14 pusaka utama yang mengikuti jamasan. 2 diantaranya milik pemkab dengan nama Kiai Amiluhur serta Kiai Bantar Angin, dan 12 lainnya berasal dari 12 kapanewon di Kulon Progo. Pusaka yang dijamas merupakan tosan aji hasil pemberian dari Kasultanan Jogjakarta dan Kadipaten Paku Alam. Jenisnya berupa tombak dengan gagang kayu, yang memiliki nilai historis panjang.
Jamasan secara tradisi memang dilakukan pada bulan suro penanggalan jawa. Lantaran, bulan Sura dipercaya sebagai bulan pensucian diri lahir maupun batin. Termasuk, pembersihan pada pusaka tosan aji yang kaya dengan kearifan lokal dan nilai historis. "Kami ingin menunjukkan tradisi jamasan ke khalayak umu, karena jarang sekali dilihat," ucapnya.
Sebelum dilakukan jamasan, terlebih dahulu tosan aji diarak dari Bale agung menuju depan rumah dinas bupati. Ketika di bale agung, dilakukan upacara adat penyerahan. Selanjutnya tosan aji diarak dengan melibatkan pasukan bergada mengelilingi Alun-Alun Wates.
Sesampai di lokasi penjamasan, dimulai dengan upacara adat dan dilanjutkan jamasan. Satu persatu tombak dikeluarkan dari sabuknya. Kemudian dibersihkan dengan beberapa cairan, serta dijamas dengan beberapa air. Untuk tosan aji yang berasal dari kapanewon, dijamas menggunakan mata air yang berasal dari daerahnya masing-masing. "Untuk jamasan ini kami melibatkan tim khusus perawatan tosan aji, sebanyak 10 orang," ungkapnya.
Dalam kasus tosan aji, perawatan dilakukan agar benda pusaka tak karatan karena terbuat dari logam. Terlebih jamasan, dilakukan untuk memperlihatkan pamor benda pusaka agar terlihat karena pamor merupakan nilai seni yang susah payah ditempa oleh penempa di zaman dahulu. "Ini juga menjadi sumber referensi untuk acara berikutnya," tuturnya.
Eka menyampaikan, di tahun ini jamasan juga dapat diikuti masyarakat umum. Masayarakat dapat menitipkan tosan aji miliknya untuk dijamas. Namun karena masih bersifat terbatas, tak banyak masyarakat yang dapat memiliki kesempatan. Jamasan secara umum sedang direncanakan oleh pihaknya dan diagendakan dilakasanakan di tahun depan. (gas/pra)