KULON PROGO - Vanili atau biasa disebut kemeli.
Tanaman ini dulunya banyak tumbuh di Perbukitan Menoreh.
Masyarakat kala itu banyak membudidaya tanaman penghasil bubuk vanili ini.
Namun, seiring perkembangan zaman ketertarikan membudidayakan pohon vanili berkurang.
Masyarakat banyak beralih menanam tanaman lain yang lebih progresif secara ekonomi.
Hal ini mendorong Heri Susanto bergerak membudidayakan pohon vanili.
Dia salah satu sosok penggerak budidaya tanaman vanili di Perbukitan Menoreh.
Tepatnya di Kalurahan Pagerharjo, Samigaluh, Kulon Progo.
"Saya mulai bergerak (budidaya vanili, Red) di tahun 2019," ungkap Heri, saat ditemui Radar Jogja di rumah pengelolaan Kalurahan Pagerharjo, Samigaluh, Kulon Progo, Selasa (23/7/2024).
Heri menyebut, vanili sebagai emas hijau. Merupakan tanaman yang sudah ada di Menoreh sejak zaman kolonial.
Saat itu banyak masyarakat yang menjadi petani vanili.
Seiring perkembangan zaman harga komoditas vanili tak stabil, sehingga membuat masyarakat meninggalkan tanaman ini.
Dari sinilah, peran Heri Susanto menggerakkan kembali masyarakat untuk membudidayakan vanili.
Sejak 2019, Heri bergerak mengedukasi masyarakat mengenai potensi budidaya vanili.
Bahwa, potensi itu masih bisa dikembangkan.
Apalagi melihat tanaman yang tumbuh subur di bumi Menoreh.
Panen vanili bisa lebih optimal.
Suhu udara dan intensitas cahaya menjadi faktor tanaman vanili tumbuh subur.
Heri menceritakan, masyarakat sekitar hanya menanam vanili ketika harga komoditas mengalami kenaikan.
Seperti pada 2016, harga vanili basah menyentuh angka Rp 600 ribu per kg, di masa itu petani berbondong-bondong menanam vanili.
Namun ketika harga mengalami penurunan petani tak mengurus tanaman hingga tanaman mati.
Padahal kebutuhan vanili dunia cenderung mengalami peningkatan, yang mana menjadi potensi besar.
Potensi itu ditangkap dengan mengajak masyarakat dan dikumpulkan ke dalam Kelompok Tani Ayem di Padukuhan Sinogo, Kalurahan Pagerharjo.
Sebelum itu, Heri menyempatkan melakukan riset di kebun pribadinya untuk mengetahi budidaya vanili secara optimal dan berkelanjutan.
Riset meliputi, pengoptimalan media tanam, mempercepat panen dengan stressing, dan pengoptimalan pengeringan pasca panen.
Heri mengaku, butuh waktu satu tahun untuk menemukan formulasi yang tepat.
"Tujuan utamanya untuk membangkitkan kembali emas hijau dari pegunungan menoreh," katanya.
Langkah Heri membangkitkan komoditas ini, memperolah simpati dari masyarakat.
Perlahan tapi pasti banyak petani yang mulai bergabung dalam kelompoknya.
Mereka secara berkelanjutan membudidayakan tanaman vanili.
Dalam konsep yang digagas Heri, vanili dibudidayakan di atas halaman rumah warga.
Ataupun ditanam secara tumpang sari.
Tujuannya untuk memanfaatkan lahan yang ada, serta tak memberatkan petani lain untuk menyiapkan lahan.
Lantaran, kebanyakan petani di wilayahnya telah menekuni pertanian cengkeh dan kopi.
"Awal dulu hanya beberapa anggota, sekarang ada 70 orang dan 40 orang aktif membudidayakan," ucapnya.
Peningkatan jumlah anggota, terjadi karena budidaya yang diterapkan Heri berhasil.
Setiap rumah anggota menanam 50 tanaman vanili.
Terlebih, Heri juga membuat produk turunan vanili yang mana dilakukan untuk mengatasi penurunan harga vanili.
Beberapa produk turunan seperti, pasta vanila, sirup, ekstrak vanili, dan makanan ringan.
Tak hanya itu, dia juga mulai mengajak petani muda untuk meneruskan kegiatan budidaya vanili.
Tujuannya untuk melakukan regenerasi petani di daerahnya, agar komoditas ini tak lagi ditinggalkan seperti zaman dahulu.
"Sekarang masih pasar lokal, tetapi secara bertahap akan dikembangkan," ucapnya.
Heri menyampaikan, pihaknya telah memasarkan vanili ke seluruh Indonesia.
Di tahap selanjutnya ia merencanakan untuk mengekspor vanili. Namun, dirinya belum menemukan formula yang tepat.
Lantaran, untuk mengekspor vanili dibutuhkan kualitas komoditas yang apik. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva