KULON PROGO - Sebanyak 351 jamaah haji Kulon Progo kembali ke Tanah Air.
Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kulon Progo mencatat, satu jamaah meninggal dunia dan satu jamaah lainnya pulang lebih dulu bersama kloter 8 SOC karena ada uzur atau terhalang sakit.
Mereka berasal dari Kloter 46 SOC. Dengan total awal jamaah yang diberangkatkan ada 353 orang.
"Secara keseluruhan sudah berjalan baik, tetapi ada dua hal yang perlu dievaluasi," ungkap Kasi Penyelenggaraan Haji dan Umroh Kantor Kemenag Kulon Progo Mulyono, saat ditemui Radar Jogja, Jumat (12/7/2024).
Evaluasi itu berkaitan dengan proses pemberangkatan haji dari Asrama Haji Embarkasi, Donohudan Boyolali, menuju Bandara Adi Soemarmo Solo.
Kemudian terkait terlambatnya transportasi maskapai penerbangan dan bus pengumpan yang mogok.
Jadwal penerbangan terlambat, yang memaksa jamaah haji harus menunggu lebih lama di asrama haji.
"Keterlambatan pemberangkatan sekitar 3 jam, dan bahkan 1 hari," ucapnya.
Selama jamaah haji menunggu di asrama membuat konsumsi yang dikeluarkan panitia haji membengkak.
Imbasnya, pihak maskapai penerbangan mendapatkan semprotan keras dari Direktur Jenderal Penyelenggara Haji dan Umroh (Dirjen PHU) Kemenag.
Maskapai langsung menerima kritik tersebut dan menjanjikan penyelenggaraan haji sesuai jadwal.
Penyediaan konsumsi yang membengkak juga telah diselesaikan dengan ditanggung pihak maskapai.
"Evaluasi juga terjadi pada penyediaan transportasi dari embarkasi ke bandara, bus pengumpan mogok," tuturnya.
Hal ini terjadi karena bus pengumpan tergolong tua, sehingga harus digantikan bus armada baru.
Kendati demikian, sebut Mulyono, jika dibandingkan dengan keberangkatan haji pada 2023, tahun ini (2024) sudah jauh lebih baik. Terutama dari segi penyediaan paspor dan administrasi.
Sri Hidayati, salah satu jamaah haji asal Kapanewon Pengasih, mengaku mendapatkan kendala di tengah prosesi haji hingga membuat suasana kurang nyaman.
Lantaran jarak tempat ibadag dan tempat parkir cukup jauh. Selain itu harus berdesakan ketika hendak menuju bus.
"Itu menjadi tantangan untuk meningkatkan kesabaran," ucap Sri.
Meski demikian ia menilai kendala adalah hal wajar yang sewaktu-waktu bisa ditemui semua orang.
Sri menuturkan ketika beribadah dia lebih fokus meningkatkan ketaqwaan dan kesabaran.
Sehingga dia tak mempermasalahkan fasilitas yang ada. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva