RADAR JOGJA - Tak seperti jamasan pusaka, Generasi ke-4 Ki Dormagati melakukan prosesi jamasan pada Kitab Lontar Kalimasada. Bertempat di kediaman keluaga besar di Padukuhan Klebakan, Salamrejo, Sentolo, jamasan dilakukan dengan sakral. Prosesi telah dilakukan sejak malam 1 Suro atau Sabtu (7/7) dengan doa bersama. Dilanjutkan pada pagi hari dengan jamasan.
"Kitab berasal dari Keraton Mataram Islam, merupakan peninggalan dari Sunan Kalijaga," ucap Lurah Salamrejo Dani Pristiawan kemarin (7/7).
Dani yang merupakan salah satu anggota keluarga besar Ki Dormagati menjelaskan, Kitab Lontar Kalimasada berisi ajaran agama Islam. Esensi ajaran melekat kuat dalam kitab tersebut. Untuk menjaga kelestarian kitab ini, pihak keluarga terus merawat secara turun-temurun dengan jamasan. Prosesi jamasan Kitab Lontar Kalimasada rutin dilakukan tiap 1 Muharram. Melibatkan seluruh anak keturunan Ki Dormagati.
Sebelum dijamas, Kitab Lontar terlebih dahulu dikeluarkan dari wadah penyimpanan. Saat itu seluruh keluarga akan membacakan doa-doa pada malam hari, dan dilanjutkan prosesi jamasan pada pagi hari.
Sebelum melakukan jamasan, keluarga terlebih dahulu memakan jenang osik. Jenang osik adalah jenang sumsum tanpa ada tambahan rasa garam. Menyimbolkan ketetapan hati untuk memahami isi Kitab Lontar. "Di buka satu persatu, dan dibersihkan dengan beberapa bahan," tuturnya.
Dani menjelaskan, prosesi jamasan menggunakan beberapa bahan. Seperti minyak, zafron, dan misik. Tujuannya untuk membuat Kitab Lontar tetap awet dan berbau wangi. Penggunaan bahan ini, juga sering ditemui pada jamasan di Keraton Ngayogyakarta. Selain itu, bahan jamasan telah direkomendasikan budayawan sebagai bahan pengawet barang bersejarah.
Menjelaskan terkait asal-usul kepemilikan, Dani menyebut beraras dari Ki Dormagati yang merupakan leluhurnya. Ki Dormagati merupakan abdi dalem Keraton Mataram Islam, yang saat itu masih dipimpin Panemabahan Senopati 1.
Sebagai abdi dalem, leluhurnya bertugas sebagai pencari harimau untuk dipertontonkan dalam pertunjukan rampogan macan. Suatu saat, Ki Dormagati sama sekali tak bisa menemukan macan. Sehingga dia terpaksa menggunakan kesaktiannya. Dipercaya masyarakat sekitar, Ki Dormagati mengubah udeng miliknya menjadi seokar macan yang dipertunjukkan untuk bertarung dalam rampogan macan. Nahasnya, perwujudan macan kalah melawan kerbau.
"Walaupun kalah Ki Dormagati tidak ditangkap, justru malah diberi Kitab Lontar," ucapnya.
Ki Dormagati diberikan Kitab Lontar, agar mampu menguasai kesaktiannya dan digunakan pada jalan kebaikan. Kitab Lontar ini akhirnya menjadi kepemilikan di keluarganya, dan terus dijaga kelestariannya.
Keturunan langsung Ki Dormagati Mugi Raharjo menjelaskan, Kitab Lontar berisi pengamalan dari kalimat syahadat sebagai ajaran islam. Ditulisnya kitab pada media lontar dinilai karena tak adanya kertas di zaman Sunan Kalijaga. Padahal saat itu ajaran Islam tengah dalam penyebarannya. Sehingga perlu media dakwah, dengan menggunakan daun lontar. "Ajaran wirid dan suluk yang bisa dibaca, karena dituliskan dalam aksara Jawa," ucapnya.
Mugi sempat membacakan sepenggal isi kitab. Yakni “Yen Siro duwe Iman, datan nolah-noleh". Penggalan kata tersebut berarti jika kamu memiliki iman kepada Allah, janganlah kamu berpaling. Penggalan kata ini, menunjukkan isi kitab yang kuat dengan ajaran Islam. Sehingga keluarganya terus menjaga bukti sejarah ini. (gas/eno)
Editor : Satria Pradika