Sapto Ongko salah satu narasumber dalam FGD menerangkan, potensi ancaman non militer saat pilkada bisa saja terjadi. Yang mana ancaman ini dapat melalui berbagai segmen, baik sosial, ekonomi, bahkan politik.
Dalam dunia politik, ancaman non militer diibaratkan sebagai senjata yang efektif dalam memecah kehidupan sosial.
Bentuk ancaman militer berupa polarisasi, politisasi identitas, disinformasi serta ujaran kebencian.
Ancaman ini dapat mempengaruhi berbagai aspek, serta menyentuh seluruh lapisan masyarakat. Nah bentingnya sinegi tersebut.
“Apalagi non militer lebih sulit dideteksi, terutama dimensi politik,” ucap Ongko.