KULON PROGO - Program cetak sawah baru yang selalu ditargetkan oleh Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertapa) Kabupaten Kulon Progo dinilai tak efektif.
Argumen ini dilontarkan oleh Anggota Komisi 2 DPRD Kulon Progo Dwi Nugraha.
Lantaran, dirinya banyak menemui hasil cetak lahan yang justru tak produktif.
"Banyak lahan pertanian hasil cetak lahan yang tak produktif," ucap Dwi, saat ditemui Radar Jogja, Rabu (19/6/2024).
Dwi menjelaskan, tingkat produktivitas hasil dari lahan pertanian cetak sawah baru tak sesuai dengan ekspetasi.
Lantaran, berbagai masalah muncul setelah lahan mulai digarap oleh masyarakat yang berkerja sebagai petani.
Permasalahan terjadi akibat kurangnya ketersediaan air, kecocokan tanah, dan akses petani.
Banyak lahan hasil cetak lahan tak berfungsi dengan baik, akibat kekurangan air.
Kecocokan tanah untuk ditanami padi juga menjadi masalah baru.
Tentunya hal ini berdampak pada hasil panen yang berpengaruh pada tingkat kesejahteraan petani penggarap cetak sawah.
Padahal banyak dari mereka merelakan tanahnya untuk dijadikan sebagai lahan sawah baru.
Namun, mereka terpaksa harus gigit jari lantaran panen kurang maksimal.
"Puluhan hektare lahan tak produktif, di daerah Donomulyo dan Banyuroto," ucap Dwi.
Dwi menjelaskan, Dispertapa dalam mencetak sawah baru dinilai tak dibarengi kajian. Lantaran, orientasi Dispertapa berfokus pada kuantitas tanpa didasari dari segi kualitas.
Padahal kajian diperlukan untuk memastikan kecocokan tanah dan kesiapan infrastruktur penunjang agar mampu mengoptimalkan hasil panen.
Di sisi lain, banyak sawah produktif mulai ditinggalkan perhatiannya oleh Dispertapa.
Banyak petani yang memiliki lahan produktif justru kesulitan dalam memperoleh air irigasi dan pupuk untuk operasional pertanian.
Padahal sawah mereka telah menjadi tumpuan pangan daerah.
Menurutnya, Dispertapa harus mengevaluasi hasil cetak sawah baru.
Selain itu, dinas terkait juga tetap membantu petani di Kulon Progo yang memiliki lahan produktif untuk mendapat akses ketersedian logistik pertanian.
Sebelumnya Kepala Dispertapa Kabupaten Kulon Progo Drajad Pubadi menjelaskan, pihaknya tengah menggenjot program cetak sawah baru.
Upaya ini dilakukan untuk mengatasi alih fungsi lahan yang terdampak keberadaan pembangunan tol di Kulon Progo.
Sekitar 74 hektare sawah tergusur akibat proyek pembangunan ini.
Dalam program cetak lahan, Dispertapa memfasilitasi pembuatan Detail Engineering Design (DED), studi kelayakan, dan pembukaan lahan pertanian.
Hal itu diupayakan agar lahan pertanian bisa optimal dalam pengelolaannya.
Menurut Drajad, lahan yang berpotensi untuk masuk program cetak lahan memiliki kriteria tersendiri.
Pertama, lahan harus dekat dengan sumber air atau irigasi yang ideal.
Kedua, lahan yang ideal harus berupa kebun dan tidak ada bangunan diatasnya.
Ketiga, dari masyarakat menginginkan adanya sawah.
"Kembali ke masyarakat, apabila masyarakat mengizinkan maka akan dibuatkan," ucap Drajad. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva