KULON PROGO - Jamu telah mengiringi perjalanan bangsa Indonesia sejak dahulu kala. Tak hanya di Pulau Jawa, jamu telah mengakar dalam kebudayaan suku di Indonesia dengan segala kearifan lokal. Namun berkembangnya zaman, membuat jamu mulai ditinggalkan.
Untuk kembali mengenalkan jamu ke masyarakat luas, Gabungan Pengusaha (GP) Jamu DIJ menyelenggarakan kegiatan di Taman Jamu Naturindo, Kalurahan Sendangsari kemarin (26/5). Acara ini juga memperingati Hari Jamu Nasional yang diperingati setiap 27 Mei.
"Jamu sudah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda oleh UNESCO, sehingga perlu dilestarikan," ucap Ketua DPD GP Jamu DIJ Teguh Adi Nugroho saat ditemui Radar Jogja kemarin (26/5).
Teguh menjelaskan, kegiatan yang diselenggarakan di Taman Jamu merupakan tanggapan atas penetapan Jamu sebagai warisan budaya. Diharapkan agar masyarakat mampu mengenal lebih jauh mengenai jamu. Terlebih kegiatan dikemas dengan cara yang menarik dan melibatkan generasi muda. "Lomba lukis dan gambar yang diikuti 200 peserta," ucap Teguh.
Anak-anak, lanjutnya, tak hanya diajak menggambar. Namun juga berkeliling di area kebun jamu. Sehingga anak dapat belajar dan mengenal lebih jauh mengenai jamu. Baik dari segi menanam tanaman, meracik, hingga mengolah.
Sementara itu, Yulianti orang tua yang mendampingi anaknya dalam kegiatan ini menyebut, acara yang digelar dapat menambah pengetahunnya sekaligus memberikan bekal wawasan bagi anak. “Ternyata banyak tanaman di sekitar kami yang bermanfaat," ucap Yulianti.
Menurutnya, beberapa tanaman selama ini hanya dianggap sebagai rumput. Namun sebenarnya memiliki khasiat kesehatan. Tanaman jamu seringkali dianggap sebagai tanaman perdu mengganggu. Padahal tanaman jamu berkhasiat apabila diolah dengan cara tepat. (gas/eno)
Editor : Satria Pradika